You are here

Teman, Apa Téman?

      Menurut Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer ”teman” mempunyai makna sebagai ”sesama teman harus saling membantu”. Sedangkan “sahabat” , masih menurut kamus itu adalah ”persahabatan yang kekal tidak akan bisa dibeli dengan uang”.

      Menurut “paman google”, persahabatan atau pertemanan adalah istilah yang menggambarkan perilaku kerja sama dan saling mendukung antara dua atau lebih entitas sosial. Di sini istilah "persahabatan"  atau “pertemanan” menggambarkan suatu hubungan yang melibatkan pengetahuan, penghargaan dan afeksi.

      Sahabat adalah orang yang memperlihatkan perilaku yang reflektif dan berbalasan atau timbal balik. Namun bagi banyak orang, persahabatan seringkali tidak lebih daripada kepercayaan bahwa seseorang atau sesuatu tidak akan merugikan atau menyakitkan mereka.

      Seringkali ada anggapan bahwa sahabat sejati sanggup mengungkapkan perasaan-perasaan yang terdalam, yang mungkin tidak dapat diungkapkan, kecuali dalam keadaan yang sangat sulit, ketika mereka datang untuk menolong.

      Dalam memilih teman tentu saja kita tidak mengenal batasan-batasan seperti suku, agama, ras bahkan jenis kelamin. Suku apapun, agama apapun, dari ras manapun dan apapun jenis kelaminnya boleh dijadikan teman atau sahabat yang penting ada kecocokan.

      Juga tidak ada aturan yang melarang kita untuk berteman dengan siapapun, kapanpun dan dimanapun. Namun sebagai orang yang mengenal adat istiadat dan budaya tentu saja kita memiliki norma yang mengatur batas-batas tertentu dalam berteman terutama berteman dengan orang yang berlainan jenis kelamin. Sebagai contoh antara pria dan wanita yang masih lajang, mereka boleh berteman asalkan masing-masing bisa menjaga diri, kalau ingin lebih dari sekedar berteman tentu saja ada aturan mainnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku di wilayah masing-masing dengan mendapat restu dari orang tua kedua belah pihak.

      Lalu bagaimana dengan pertemanan orang-orang yang sudah berkeluarga? tentu saja boleh berteman tapi lagi-lagi ingat ada batasannya; sebatas teman kerja, sebatas teman curhat, sebatas teman belajar, sebatas teman bisnis, sebatas teman bersenda gurau yang wajar dan tentu saja tidak bisa ditingkatkan lebih dari sekedar berteman apalagi menjurus ke hubungan yang spesial, karena masing-masing sudah terikat dengan pasangannya.   

      Tapi sebagai manusia biasa, terkadang kita bisa khilaf sehingga tidak memikirkan terlebih dahulu apa akibat dari keputusan dan tindakan yang dilakukan. Misalnya awal mula hanya sekedar “teman” lama-lama karena teman tersebut lawan jenis akhirnya jadi “TTM (teman tapi mesra-red)”. Karena kepinginnya selalu berdekatan, duduk berdekatan, kerja berdekatan, jalan berdekatan ujung-ujungnya tidur pun mau berdekatan, sudah sekali mau dua kali dan seterusnya, lama-lama jadi ketagihan.  Kalau seperti itu bukan lagi “teman“, tapi sudah menjadi  “Téman” yang artinya sudah diplesetkan “Tengok Engkau Mana Tahan…….…...!!”.