Di dinding kamar saya, ada enam bulan dalam setahun yang oleh Indonesia disongsong, diperingati, serta dirayakan dengan kemeriahan yang beragam. Keenam bulan itu, Maret, April, Mei, Juni, Agustus, dan Oktober, lengkap dengan sosok tokohnya masing-masing yang menjadi pelaku utama hari-hari penting di keenam bulan itu. Hari Film Nasional (Harfinas) ada di bulan Maret demi mengenang jasa Haji Usmar Ismail. Hari Sastra Nasional (Harsasnas) di bulan April ada, karena para kafilah sastra tak ingin meniadakan peran sang penyair “binatang jalang” Bung Chairil Anwar, karena ketokohannya sebagai salah seorang pejuang pembaharu sastra yang fenomenal, tak lekang oleh panas, dan lapuk oleh hujan. Begitupun dengan keputusan-keputusan sejarah terhadap Ki Hajar Dewantara, Bung Karno, dan Bung Hatta.Ibarat kata, tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta. Tak cinta, maka tak kukenang. Namun selebihnya, tiadalah maksud di hati untuk mengatakan, bahwa hari-hari penting nasional lainnya tak layak diperingati dan dirayakan. Saya hanya sedang mengenang tentang keenam bulan yang memang berangkat dari proses kreatif sastra itu.Betapa keputusan untuk menjadikan keenam bulan itu layak diperingati, sesungguhnya sengaja atau tidak sengaja, sadar atau tidak sadar, lantaran sastra jua; sebab ada frase-frase sastrawi yang terlahir dari sana. Artinya, bagi saya, peristiwa sastralah yang telah menghantarkan mereka kepada hari-hari penting yang selama ini kita peringati.
Usmar Ismail telah mengalihbahasakan kreativitas sastra bacaan menjadi sastra tontonan berupa film. Menunjuk salah satu karyanya ialah, Perjuangan untuk Kebebasan (1961). Dan masa-masa ke depannya setelah itu, semakin banyak saja karya-karya sastra bacaan yang berubah wujud menjadi sastra tontonan, entah menjadi sinema ataupun menjadi seni pertunjukan teater. Bertautan dengan Harfinas, digelar berbagai seminar soal film, lomba cipta skenario film, lomba dialog,dan lain semacamnya.
Chairil Anwar, sang penjaga gawang Harsasnas, tak usah lagi diragukan keberadaan karya-karya sasteranya. Sama saja, saban April, Chairil tampil dan hidup lagi di berbagai ajang perlombaan, dan ruang-ruang seminar kesastraan. Lalu lanjut ke Mei, ada Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional, yang takkan terlupakan karena “ing ngarso sung tulodo,ing madyo mangun karso, tut wuri handayani” (di depan menjadi teladan, di tengah membangkitkan semangat, dari belakang mendukung). Sungguh suatu lirik puisi yang indah dan bernas. Menjadi semboyan pendidikan di Indonesia, dan terpakai hingga kini.Terus, Pancasila di bulan Juni Saya menyebut Juni sebagai teaser (adegan penggoda, bagian dari scene suatu film, ditempatkan sebagai prolog), untuk menuju kepada adegan klimaks di bulan Agustus. Ya. Indonesia pasang kuda-kuda melalui pidato Bung Karno tentang lahirnya Pancasila pada tanggal 1 Juni 1945. Sebuah teaser. Sebuah langkah awal yang berjudul “Proklamasi”. Sastrawi, dan mumpuni. Lantas?
Bagi saya, seindah-indah bulan dalam setahun adalah Oktober. Bukan Agustus, yang lazim selama ini diperingati, dirayakan, serta dielu-elukan dengan berbagai pesta rakyat nan gegap gempita. Proklamasi terjadi di negeri ini hanya boleh sekali saja. NKRI harga mati! Tapi Sumpah Pemuda harus selalu ada di tiap sisi kehidupan bangsa Indonesia. Menjadi dada, darah daging selamanya. Sumpah Pemuda adalah puisi rakyat Indonesia yang sangat luar biasa. Segenap unsur citarasa dan estetika karya sastra puisi ada di dalamnya. Kepadatan makna, baik tersurat maupun tersirat dimilikinya. Rasanya tidaklah salah menyebut puisi Sumpah Pemuda tersebut mengemban sebuah misi kebangsaan yang sangat agung, karena ia terlahir dari tekad dan semangat kaum muda ketika itu, demi menegakkan persatuan dan kesatuan, meruntuhkan kolonialisme yang berabad memperbudak serta menyengsarakan rakyat.
Sumpah pemuda adalah suatu perjuangan sejarah yang luar biasa heroiknya. Di dalamnya ada nilai-nilai patriotik, kebersamaan, dan persatuan, yang mengkristal dalam keberagaman etnis dan budaya, yang lantas menjadi bom waktu, meledak dan terurai menjadi simfoni kemerdekaan Proklamasi 17 Agustus 1945.
Alhasil, Sumpah Pemuda tak harus diperingati dengan sekedar upacara di sekolah-sekolah dan atau instansi pemerintah, atau menjadikannya bulan bahasa belaka. Mari merangkul kembali sumpah yang penuh hikmah itu, menjadi teman setia di sepanjang kehidupan berbangsa dan bernegara. Tak hanya oleh kaum muda, tapi harus menjadi sikap tindak segala lapisan usia. Di dalam berpolitik, di dalam berbudaya; sebab Sumpah Pemuda tak hanya merupakan keputusan politik, tapi juga sekaligus merupakan keputusan budaya. Alangkah indah. Tiga poin persatuan menghidupinya. Jadi, Sumpah Pemuda itu 3 in 1 (Three in One). Keberagaman dalam satu. Haram hukumnya ia menjadi tumpuan sumpah serapah. Baik di dalam ruangan, apalagi di jalanan yang penuh orang lalu-lalang. Tak perlu saling melukai demi aspirasi. Mari berkarya di tiap jengkal Bumi Pertiwi tercinta ini tanpa harus anarkis. Tanpa harus menyisakan sesal dan tangis. Selamat bersumpah pemuda selamanya. Selamatlah selamanya, Indonesiaku! Amin.
Pietra Sar
Sastrawan Kalbar, Asal Pontianak.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
