You are here

Sastra Menembus Batas Waktu, Tempat, dan Angan

Karya sastra merupakan hasil cipta yang berakar dari imajinasi saeorang pengarang. Kehadiran sebuah karya sastra bukanlah secara serta merta.

Akan tetapi ada proses imajinasi dan pengolahan terhadap fenomena kehidupan yang dilihat dan  dilalui oleh seorang pengarang yang sekaligus sebagai individu dari komunitas atau etnisnya. Tak salah jika pada suatu kali pertemuan sastra, seorang sastrawan sekaligus akademisi, Sapardi Djoko Damaono, menjelaskan bahwa karya sastra bukanlah sesuatu yang jatuh dari langit, tetapi adalah hasil cipta seorang pengarang dari kecermatan dia mengurai dan merangkai kata-kata dari suatu proses penciptaan karya sastra. Bahkan, ketika melakukan penciptaan karya sastra, seorang pengarang biasa melakukan perjalanan ulang alik. Seorang pengarang bisa menulis satu karya sastra dengan dua bahkan tiga bahasa. Dengan demikian ada sejumlah itu juga karya sastra yang akan dilahirkan oleh seorang  pengarang tersebut. Ayib Rosidi merupakan contoh seorang pengarang Indonesia yang melakukan perjalanan ulang alik tersebut.

      Selain itu, seorang pengarang dalam penciptaan karya sastra juga dapat menembus waktu dan tempat. Hal ini dapat dilihat dari salah satu antologi puisi, yaitu Traktat Cinta dan Dosa Dalam Dendam. yang baru saja diluncurkan beberapa waktu lalu. Antologi ini pada awalnya hanya curhat beberapa orang penulis dari berbagai daerah dalam dunia maya (facebook). Secara domisili sastra telah mampu menembus batas tempat. Dari dua puluh lima orang yang mengisi antologi tersebut sebenarnya mereka berasal dari berbagai suku dan daerah , bahkan ada yang berasal dari wilayah Semenanjung. Antologi ini telah mampu menembus sekatan waktu dan tempat. Penciptaan dan penerbitan karya sastra tidak lagi dibatasi oleh ruang waktu dan tempat.
      Secara substansi, beberapa puisi dalam antologi tersebut berbicara tentang dunia yang sesungguhnya bukan dunia yang mereka hadapi sekarang. Akan tetapi dunia masa lalu, bahkan dunia khayalan atau imajinasi mereka tentang masa yang akan datang. Hebatnya, para sastrawan seakan mereka berlagak seperti juru ramal. Mereka tidak hidup pasa masa lalu, tetapi mereka bisa bercerita tentang masa lalu.
      Selain itu, sastrawan juga mampu menembus angan dari dunia mereka atau identitas meraka. Hal ini dapat terlihat pada puisi yang berjudul Jangan Panggil Bapakmu  karya Rahmat Ansayrif. Penyair yang satu ini mampu mengadopsi kata-kata yang sebenarnya bukan kosa kata yang bersumber dari identitas budayanya. Sebagai seorang yang lahir dari keluarga etnis Bima dia malah mempergunakan kosa kata budaya lain sebagai sarana penyampaian pesan pada puisi. Kata genuk, wayang, sri bintang, dan  biyung merupakan kosa-kata budaya Jawa yang dijadikana sebagai sarana untuk menyampaikan kekuatan pada puisi tersebut. Cara lain yang dilakukan sastrawan untuk menembus angan dapat juga kita lihat  pada salah satu syair Harun Das Putra yang berjudul Sultan Syarif Abdurrahman, yang berbicara tentang perjuangan Sultan Syarif Abdurrahman membangun Kerajaan Pontianak. Harun tidak hidup pada masa  Sultan Syarif Abdurrahman  membangun Kerajaan Pontianak, akan tetapi ia mampu dengan khayalannya memberikan gambaraban kepada kita tentang kehidupan tokoh Sultan Syarif Abdurrahman.