PARA remaja lelaki ternganga melihat foto berwarna bergambar vagina, sementara gadis-gadis tersenyum malu ketika menonton kartun yang memperlihatkan penis “berbicara” soal masturbasi. Gadis-gadis berkerumun di sekitar papan panel tentang cinta dan hubungan, melihat seorang anak lelaki memeluk sebuah manekin perempuan sekuat-kuatnya untuk mengukur kekuatan pelukannya.
PARA remaja lelaki ternganga melihat foto berwarna bergambar vagina, sementara gadis-gadis tersenyum malu ketika menonton kartun yang memperlihatkan penis “berbicara” soal masturbasi. Gadis-gadis berkerumun di sekitar papan panel tentang cinta dan hubungan, melihat seorang anak lelaki memeluk sebuah manekin perempuan sekuat-kuatnya untuk mengukur kekuatan pelukannya.
Pemandangan ini menyapa pengunjung Museum Nasional Sains yang terletak di luar ibukota Thailand, Bangkok, tempat pameran interaktif tentang seksualitas manusia bertema “Kisah Cinta” sedang berlangsung.
Pameran selama setahun itu, yang dibuka pada 30 Juni lalu, dimaksukan sebagai sebuah cara kreatif dan jujur untuk bicara tentang isu seksualitas dan gender yang menjangkau anak-anak muda.
Nest, berusia 12 tahun, siswa kelas 6, dengan malu-malu bilang bahwa pameran itu membuatnya “belajar lebih banyak tentang seks”.
"Saya menyukainya karena ada banyak informasi tentang seks dan cinta, lebih dari apa yang kita bicarakan di kelas," kata James, berusia 15 tahun, siswa kelas 9 yang mengunjungi museum bersama keluarganya.
Pameran itu diadakan Museum Nasional Sains bekerjasama dengan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Budaya PBB (UNESCO), Dana Pembangunan PBB untuk Perempuan, Yayasan Advokasi Kesehatan Perempuan, dan kelompok lain. Pameran itu diharapkan memenuhi kebutuhan informasi akurat mengenai seksualitas, yang mungkin kurang didiskusikan secara lebih terbuka di sekolah maupun keluarga.
"Pameran ini hanyalah sebuah tempat bagi semua orang untuk mulai membicarakan seks dan seksualitas dengan cara tak menghakimi," kata Ganigar Chen, direktur komunikasi sains dan hubungan internasional museum.
Dibagi menjadi enam zona, pameran itu mengajak pengunjung untuk tahu tentang hubungan seksual dan aborsi, juga bias gender dan kekerasan seksual.
“Saya sangat senang dengan pameran ini karena langsung dan dan tak penuh dengan eufemisme," kata ayah James, Charles Gittelson, yang mengajar di sebuah sekolah internasional.
Istri Gittelson, Apple, geli dengan mainan seks (sex toys), yang bisa dilihat melalui lubang intip. Sebuah monitor juga menunjukkan berbagai sampel virus yang menularkan penyakit seksual menular, termasuk HIV.
Ketika muda-mudi mendapat rentetan informasi dari teman dan media, kuncinya adalah membantu mereka belajar secara tepat dan tahu tanggungjawab, kata kepala museum Pichai Sonchaeng.
“Kami tak mungkin menjaga anak-anak kami di rumah dan bersama mereka selama 24 jam. Jadi kami perlu mengajarkan mereka tentang seks yang aman, pengendalian penduduk, kekerasan seksual, preferensi seksual, dan hal lain yang terkait dengannya,” ujarnya.
Di dalam kelas-kelas pendidikan seks, orang dewasa selalu menyampaikan pesan tersamar kepada anak muda untuk menghindari hubungan seks, ujar Philip Bergstrom, penasihat pada pusat kesehatan reproduksi seksual remaja UNESCO Bangkok.
“Apa yang mereka butuhkan adalah kita memberi kepercayaan kepada mereka untuk membuat pilihan yang mungkin terbaik dengan memberi mereka informasi yang cukup, dengan cara tak menghakimi, sehingga mereka bisa membuat keputusan sendiri,” kata Bergstrom.
Masyarakat seringkali Thailand percaya, “jika Anda mengajarkan hal ini terlalu banyak, ia akan mendorong siswa untuk berhubungan seks”, khususnya ketika berbicara tentang kondom dan alat kontrasepsi lain, ujar Prof Pimpawun Boonmongkon dari Universitas Mahidol, spesialis isu gender dan seksualitas.
Pejabat museum memberi andil dan reaksi yang kurang antusias atas pameran itu. “Kami mendapat banyak komentar bahwa ini bukan tugas museum, dan memberikan terlalu banyak bagi anak muda,” ujar Pichai.
Tapi ini lebih, bukan kurang, mengena pada apa yang dibutuhkan, ujar penyelenggara pameran dan aktivis gender itu.
Jelas orangtua perlu mulai bicara tentang seks dengan putri mereka. Dalam masyarakat Thailand, anak laki-laki biasanya diajarkan sementara anak perempuan “diproteksi”, ujar Pichai.
Salah satu topik yang tabu di Thailand adalah seks pranikah bagi perempuan, imbuh Pimpawun.
Meski kebijakan tentang pendidikan seks di Thailand diumumkan awal 1938, ia baru diajarkan di seolah-sekolah pada 1978. Saat ini, ujar Chen, mata pelajaran pendidikan seks diajarkan dari sekolah menengah ke atas.
Bergstrom mengatakan, meski ada upaya untuk membuat pendidikan seks lebih komprehensif dalam beberapa tahun terakhir, "ia masih belum berjalan dengan baik".
Dalam penelitiannya, Pimpawun menemukan hanya 4 persen sekolah di Thailand memasukan pendidikan seks dalam kurikulum mereka dengan pendekatan yang lebih bebas, interaktif, dan berpusat pada siswa.
Diskusi tentang materi apa yang masuk dalam pendidikan seks juga menimbulkan kontroversi di masa lalu.
“Hanya diizinkan 16 jam per tahun untuk pendidikan seks dan tak ada insentif khusus yang dibangun untuk guru atau siswa mengajar dan mempelajari pendidikan seks, dan ia tak muncul dalam ujian universitas," kata Bergstrom.
Banyak siswa tak tahu kepada siapa bertanya tentang seks. “Mereka tak bisa berbicara kepada guru karena guru sendiri sungkan dengan topik itu," ujar Chen.
“Bagi guru, bahkan untuk menyebut nama organ reproduksi tertentu bisa sangat sulit, apalagi menjelaskan aktivitas seks?” ujar kurator pameran Nopparat Thepthepa.
"Guru-guru di Thailand sangat sempit dalam mengajarkan pendidikan seks. Kenyataannya para remaja ingin tahu tentang seks –dan mereka melakukan hubungan seks,” ujar Gittelson, yang telah tinggal di Thailand selama 20 tahun.*
Translated by Basilius Triharyanto
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
