You are here

Museum Budaya

Pascalebaran ada hiruk pikuk yang menarik perhatian saya saat mendatangi kampus. Ada aktivitas tahunan di kalangan sivitas akademik yang sudah mentradisi dilakukan saat tahun ajaran baru.

Aktivitas menyambut mahasiswa baru. Biasanya kegiatan ini dilakukan selama tiga hari untuk membekali mahasiswa baru dengan pelbagai pengetahuan tentang perkuliahan, pembuatan makalah, pengenalan organisasi–organisasi mahasiswa di lingkungan kampus, dan lain-lain. Bahkan, biasanya pengkaderan akan terus berlanjut selama setahun yang dilakukan organisasi mahasiswa jurusan/himpunan di lingkungan fakultas masing-masing. Biasanya dalam masa orientasi, mahasiswa baru akan melakukan apa saja yang diperintahkan oleh senior kepada mereka selama tidak bertentangan dengan norma agama.

Fenomena ini sebenarnya sangat baik dimanfaatkan dalam rangka mendokumentasikan budaya lokal Kalimantan Barat. Sebuah usaha untuk membagun museum budaya di Kalimantan Barat secara massal dan bersama-sama. Inspirasi ini muncul saat saya berbincang-bincang santai dengan seorang tokoh Melayu Kalimantan Barat. Beliau menggagas konsep museum budaya dengan cara murah dan santai-santai serius.
“Seandainya setiap mahasiswa baru menyumbang satu benda budaya yang ada dari daerahnya masing-masing maka akan ada ribuan benda budaya yang menjadi koleksi universitas setiap tahunnya,” ujar sang profesor.
Lontaran beliau soal museum budaya menarik untuk disikapi dengan bijaksana. Bukankah, kita mafhum mahasiswa yang ada di perguruan tinggi negeri seperti Universitas Tanjungpura rata-rata berasal dari daerah kabupaten dan kota yang ada di Kalbar. Fakta ini menunjukkan bahwa mahasiswa berasal dari latar belakang etnik dan kampung yang berbeda-beda. Dengan demikian, masing-masing mahasiswa pasti memiliki benda budaya yang menjadi ciri-ciri hidup orang di kampung, seperti bambu peniup kayu bakar, gasing, topi Pak Tani (tanggui), alat pengetam, tikar lampit, penarah, beliung, alu, ketapel, dan bambu untuk senggayong (angklung tunggal) dari Ketapang.
Benda-benda budaya seperti yang saya sebutkan itu mungkin bagi sebagian orang merupakan hal yang biasa-biasa saja. Mungkin ada yang menganggapnya benda kampung tidak berguna. Justru anggapan kuno dan takberguna yang memotivasi kita untuk segera memuseumkannya, bukan? Khawatirnya, benda-benda budaya tersebut dibiarkan menghitam dan berdebu atau dibuang sehingga takberjejak karena tergantikan benda-benda modern. Alih-alih mengumpulkan benda-benda budaya dari para mahasiswa baru akan dapat membangun sebuah museum budaya di lingkungan kampus dengan memanfaatkan ruang atau gedung yang ada.
Saya teringat dengan seorang kolega berkebangsaan Amerika. Kebetulan saya kerap mendatangi rumah orang asing ini. Di dalam rumahnya, lelaki berkebangsaan Amerika ini memajangkan secara khusus benda-benda budaya, seperti gasing, tikar lampit, pengetam padi, keranjang pikul, congklak, cakalele, dan lain-lain di ruang tamu rumahnya. Dia menjadikan  rumah pribadi seperti museum budaya. Benda-benda itu didapatkannya saat ia berkunjung ke kampung-kampung di Indonesia. Bahkan, oleh-oleh yang sangat disenangi profesor asal Amerika ini adalah aneka jenis gasing dan alat-alat tradisional dari kampung. Saya jadi merenungi kegigihan kolega dari Amerika ini. Dia saja peduli dengan benda-benda budaya mengapa kita yang memiliki benda-benda budaya itu tidak mau memajangnya dalam sebuah ruang atau gedung sebagai pembelajaran bagi anak cucu kita kelak?