Kalimantan Barat memang daerah yang memiliki heterogenitas penduduk yang tinggi. Dayak, Melayu, Cina dan suku bangsa lainnya tercatat menjadi warga daerah ini. Bahkan sejak ratusan tahun lalu warga Kalbar telah berinteraksi dengan warga dari seluruh penjuru dunia.
Adat budaya antar warga telah terjalin begitu mesra sejak lama. Begitu juga sebaliknya, gesekkan antar etnis juga tak jarang terjadi. Pasang surut relasi antar etnis terjadi begitu dinamis. Tak heran jika muncul wacana untuk menjaga stabilitas hubungan antar etnis.
Seperti wacana tentang Rumah Budaya yang kini tinggal menunggu waktu realisasinya.
Kendati sempat terjadi penolakan terhadap sejumlah fraksi beberapa waktu yang lalu, pembangunan rumah budaya tetap berjalan. Pembangunan itu nantinya akan menggunakan dana APBD tahun 2012 dengan menelan anggaran sebesar Rp 54 miliar. Rumah Betang dianggarkan sebesar Rp 22 miliar, Rumah Melayu sebesar Rp 22 miliar dan pembangunan plaza sebesar Rp 10 miliar.
Ketua DPRD Kalbar, Minsen, menegaskan, yang menjadi diskusi yang panjang itu karena adanya usulan dari PU bahwa program pembangunan rumah budaya itu akan digunakan selama dua tahun anggaran. Setelah mendapat penjelasan, akhirnya semua memahami.
Minsen menambahkan persetujuan anggaran pembangunan rumah budaya itu harus melewati sidang paripurna DPRD Kalbar. Dan pelaksanaan sidangnya akan dilaksanakan secepat mungkin sebelum anggaran APBD tahun 2012 diketuk palu.
Sementara itu, Kadis PU, Jakius Sinyor menegaskan tidak ada perubahan dalam pelaksanaan rumah budaya termasuk lahan yang digunakan tetap di lokasi bekas gedung DPRD Provinsi Kalbar di Jalan Sutan Syahrir, Pontianak.
Secara proyek, pembangunan Rumah Budaya tidak menemui masalah berarti. Pemprov telah memberi dukungan penuh. Otomatis secara pembiayaan sudah tidak ada masalah lagi. Persoalannya tinggal bagaimana meyakinkan khalayak ramai bahwa proyek ini bisa memberi manfaat bagi penduduk Kalimatan Barat.
Polemik yang sempat muncul di kalangan politisi di DPRD Provinsi beberapa waktu lalu tidak bisa serta merta dipadamkan begitu saja tanpa penjelasan yang konkrit dan logis. Apabila diskusi dan sosialisasi proyek besar ini bisa dituntaskan dalam waktu dekat ini, tentu rencana pembangunan Rumah Budaya ke depan benar-benar tanpa kendala. Namun jika perdebatan soal manfaat rumah ini belum selesai, kita tentu merasa khawatir proyek ini akan berujung sia-sia.
Kita sangat berharap para pihak yang terkait dengan rencana pembangunan ini bisa duduk satu meja. Mencari titik temu, agar silang sengketa dan kecurigaan-kecurigaan terselubung bisa diberi jawaban. Semoga.
Senget
Pembangunan Rumah Budaya segera dilaksanakan
Semoga daerah ini semakin berbudaya
Bang Tribune
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
