You are here

Masuk Penjara Lagi

Sekali lagi harus berurusan dengan pihak penegak hukum untuk memenuhi panggilan yang telah disampaikan. Panggilan itu harus dipenuhi karena informasi sebelumnya telah diberi tahu. Jika panggilan itu  tidak dipenuhi, pihak penegak hukum terpaksa mengambil alternatif, yang mungkin akan merusak tatanan yang telah dirancang.

    Dalam hal ini, memenuhi panggilan penegak hukum di lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) Provinsi Kalbar. Kementerian yang baru saja berganti nakhoda dari Patrialis Akbar, politisi PAN, ke Amir Syamsudin, politisi Partai Demokrat dan dibantu wakil menteri (wamen), Deny Indrayana, mantan staf khusus kepresidenan bidang hukum (all SBY men).

    Panggilan itu untuk kembali masuk penjara, tepatnya masuk ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) dewasa Provinsi Kalbar di Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya. Pagi-pagi sekali harus sudah berada di tempat, begitu informasi yang diterima karena tepat pukul 07.00 pelaksanaan panggilan itu akan segera dieksekusi.

    Ahad 6/11/11 mentari pagi masih hangat-hangat kukuh, segera bergegas menuju Lapas Sungai Raya. Perjalanannya dilalui dengan lancar tanpa kendala yang berarti, seperti kemacetan lalu lintas yang biasa terjadi di titik-titik jalan raya Pontianak. Jika setiap pagi seperti ini, masyarakat Pontianak pasti merasa nyaman sampai ke tempat kerja. Akan tetapi, realitas Pontianak selalu dirundung kemacetan yang semakin akut setiap jam kerja. Pemangku kebijakan harus mengurai problem kemacetan setiap pagi di Pontianak. Jika tidak, Pontianak bakal menjadi Jakarta kedua.

    Satu jam sebelum eksekusi pelaksanaan sudah memasuki Lapas dengan tentu melewati beberapa pintu yang selalu dijaga oleh para sipir. Dengan demikian, panggilan tersebut dapat dilaksanakan dengan baik, yang tidak bakal mengganggu stabilitas eksekusi pelaksanaan nanti.

    Diiringi oleh petugas pelaksana, bersama memasuki lagi ruang yang sebelumnya pernah dimasuki. Ruang itu besar berjeruji yang dihiasi oleh ornamen khas Kalbar, ukiran Dayak dan burung Enggang tepat di atas panggung ruang itu. Ornamen- ornamen itu didominasi oleh warna kuning yang merupakan warna khas Melayu.

    Sambil menunggu, lalu-lalang warga Lapas lewat pinggir menenteng ken untuk mengambil air di belakang ruang itu. Sepertinya air itu untuk persediaan minum selama sehari. Sejurus itu, beberapa warga Lapas lain telah berbaju rapi bersongkok duduk di hamparan karpet yang telah disediakan. Menurut petugas yang mendampingi, warga Lapas Sungai Raya berjumlah kurang lebih 600.000 orang.    

    Wajah yang dulu akrab masih tampak di ruang itu, artinya masih menjalani sisa masa tahanan yang harus dijalani. Wajah itu pernah ditemui dua tahun lalu setelah kembali masuk penjara lagi. Kemungkinan bagi mereka yang di dalam bisa jadi merasakan begitu lama menghabiskan dua tahun. Sementara itu, bagi mereka yang di luar pasti merasakan cepat waktu berlalu, jangankan dua tahun, sepuluh tahun kadang tidak terasa. Rasanya baru kemarin meninggalkan Lapas Sungai Raya ternyata sudah dua tahun harus masuk kembali.

    Kemudian, wajah yang pernah akrab ditemui tidak tampak di ruang itu. Usut punya usut, ternyata sedang dalam proses asimilasi, diperbolehkan keluar, tetapi waktu yang ditentukan harus kembali ke Lapas.

      Menjelang waktu pelaksanaan selasar ruang itu telah dipenuhi oleh warga binaan Lapas walau tidak sampai melampui ambang batas kapasitas ruang itu. Sementara itu, warga binaan perempuan memenuhi beberapa meter persegi ruang itu dengan ditutupi tirai hitam karena memang begitu ketentuan pelaksanaannya.

    Setelah turun dari mimbar yang pernah ditemui dua tahun lalu sebagai prosesi pelaksanaan salat Idul Adha, warga Lapas menyemut berebut menjulurkan tangan untuk bersalaman. Wajah-wajahnya menyimpan seribu tanya yang takterjawab. Namun demikian asa yang kelak dijawab, pengurbanan mereka menyerahkan sebagian hidupnya di balik jeruji penjara akhirnya dapat diterima di masyarakat.

                    Salam buat Warga Lapas Dewasa Sungai Raya, 071111