You are here

Kebebasan dan Nilai

Kebebasan adalah hakikat hidup manusia yang membedakan dirinya dengan makhluk ciptaan lainya. Manusia dapat dikatakan sebagai manusia, jika ia memiliki sebuah kebebasan. Namun seringkali hal itu disalahkan artikan. Karena merasa diri bebas, manusia menjadi lepas kendali. Melakukan tindakan seenaknya bahkan cenderung merugikan orang lain. Jika kita sedikit kembali ke masa menelusuri pengalaman masa lampau, ketika rezim orde baru tumbang di tangan mahasiswadan digantikan dengan reformasi yang menempatkan kebebasan di atas segala-galanya, setiap orang di negeri ini  bebas mengekspresikan dirinya, bebas berpendapat dan beragumentasi. Yang menjadi kekhasan zaman reformasi ini adalah setiap ketidakadilan dan masalah sosial yang terjadi selalu disikapi dengan demo-demo.

Kebebasan adalah hakikat hidup manusia yang membedakan dirinya dengan makhluk ciptaan lainya. Manusia dapat dikatakan sebagai manusia, jika ia memiliki sebuah kebebasan. Namun seringkali hal itu disalahkan artikan. Karena merasa diri bebas, manusia menjadi lepas kendali. Melakukan tindakan seenaknya bahkan cenderung merugikan orang lain. Jika kita sedikit kembali ke masa menelusuri pengalaman masa lampau, ketika rezim orde baru tumbang di tangan mahasiswadan digantikan dengan reformasi yang menempatkan kebebasan di atas segala-galanya, setiap orang di negeri ini  bebas mengekspresikan dirinya, bebas berpendapat dan beragumentasi. Yang menjadi kekhasan zaman reformasi ini adalah setiap ketidakadilan dan masalah sosial yang terjadi selalu disikapi dengan demo-demo.

Demo-demo ini tidak hanya dilakukan oleh para mahasiswa, orang dewasa tetapi melibatkan anak-anak yang tidak tahu apa-apa. Namun sangat disayangkan bahwa kerapkali demo-demo tersebut berakhir dengan tindakan anarkis, perusakan fasilitas-fasilitas umum, pelemparan batu kepada aparat keamanan, pembangkaran poster presiden atau pejabat yang dianggap bermasalah, bahkan demo-demo yang berkedok membawa perubahan ini seringkali diboncengi oleh kepentingan-kepentingan kelompok atau partai politik untuk menjatuhkan lawan politiknya dan pembunuhan karakter. Tidak sedikit demo-demo terbuka ini membawa korban jiwa. Bahkan masih segar di dalam ingatan kita seorang anggota DPRD harus meregang nyawa ketika di demo oleh mahasiswa dan masyarakat. Masih segar pula di dalam ingatan kita bagaimana ulah para sporter tim kesayangan Persebaya Surabaya yang dikenal dengan sebutan BONEK (Bondo Nekat/Modal Nekat) merusak fasilitas-fasilitas umum dan fasilitas stadion ketika tim kesayangannya kalah. Semuanya itu dilakukan atas nama kebebasan.

Masih banyak lagi tindakan yang dilakukan atas nama kebebasan. Karena merasa diri menjadi manusia yang bebas, maka ia pun seringkali menghalalkan berbagai cara untuk mencapai sesuatu yang diinginkannya. Karena ingin kaya, dihormati dan disegani oleh banyak orang ia tega melakukan tindakan korupsi dan memanipulasi orang. Penyuapan, proyek fiktif dan lain sebagainya. Pemahaman yang salah tentang arti kebebasan ini harus dibayar dengan harga mahal, yakni kemiskinan, gizi buruk, infrastruktur yang tidak memadai, masyarakat pedalaman terbelakang Lalu pertanyaannya bagi kita “Apakah yang dimaksud dengan kebebasan?” dan “apakah tindakan-tindakan tercela di atas mengandung nilai yang harus diperjuangkan? Kerapkali kebebasan disamakan dengan suatu tindakan yang dilakukan tanpa beban, tanpa tanggung jawab, tidak tergantung pada siapa-siapa. Kebebasan sejati, sebaliknya justru terletak pada sikap menerima dengan gembira bahwa kita adalah makhluk sosial (bukan makhluk so’ sial), yang memiliki ikatan tanggungjawab yang merupakan akibat dari hidup bermasyarakat. Kendati merupakan anugerah paling ajaib yang kita miliki, kebebasan itu pun juga merupakan suatu seni paling sulit yang harus dipelajari seumur hidup.

Kebebasan bukanlah suatu kemampuan untuk menjalankan apa yang kita inginkan, melainkan kekuatan untuk melakukan apa yang harus kita lakukan dalam cinta kasih dan persaudaraan. Oleh karena itu, kebebasan manusia itu memiliki batas-batas tertentu, karena dibatasi oleh otoritas. Apa itu otoritas? Otoritas adalah kekuasan yang berada di atas diri kita, yang membuat kita harus tunduk dan patuh terhadap kekuasan itu. Misalnya: Orang tua, Guru, Hukum/Peraturan, tradisi, Pemerintah, rambu-rambu lalu lintas, Polisi, waktu dan Tuhan. Otoritas yang paling tinggi adalah Tuhan, di mana setiap orang harus patuh kepada-Nya. Otoritas ini membantu kita untuk memperjuangkan sekaligus mencapai sebuah nilai yang luhur.

Jadi seharusnya kebebasan itu harus memiliki nilai yang diperjuangkan. Nilai adalah sesuatu yang pantas dibela atau diperjuangkan. Karena nilai adalah sesuatu yang berharga dan bahkan demi nilai seseorang rela menderita, berkorban dan bersedia mati. Nilai memberikan motif-motif atau sebab-sebab yang menjadi dorongan orang untuk bertindak. Maka nilai menentukan kualitas hidup seseorang  dan memberikan arah seperti rel yang menyebabkan kereta api tetap ada di jalurnya. Nilai tersebut mempunyai tiga dasar, yaitu: kepala, hati dan tangan. Kepala merupakan tempat kita menyerap bahwa sesuatu pantas dibela atau diperjuangkan dan saya yakin secara intelektual akan harkatnya. Hati. Bahasa hati menceritakan kepada kita bahwa saya tidak hanya dapat menyerap sesuatu yang berharkat tetapi juga bahwa dipengaruhi oleh harkatnya. Tangan, dasar nilai ada di tangan, ada ditindakan ketika seluruh pribadi terlibat, hati dan budi. Nilai membimbing kita ke arah pengambilan keputusan dan tindakan.

So, setiap pribadi manusia harus menyadari makna sebuah kebabasan yang dimilikinya. Apakah tindakan yang dilakukannya atas nama kebebasan memiliki nilai? Jika tidak tindakan itu tidak pantas untuk dilakukan. Misalnya korupsi, jelas-jelas tidak mengandung nilai. Karena merugikan orang lain bahkan dapat membuat masyarakat kelas bawah semakin terpuruk akibat tindakannya. Para pejabat pemerintah yang korupsi tidak pantas memimpin negeri ini karena tindakannya tidak bernilai, sebaliknya membuat masyarakat yang dipimpinnya menderita dalam kemiskinan. Jadi untuk membangun sebuah pemerintahan yang bersih, bermoral dan makmur salah hal yang harus diperhatikan oleh para pemimpin atau pejabat adalah memahami secara benar tentang makna kebebasan dan nilai. Agar ia dapat membawa bangsa ini pada rel yang benar. Pemahaman yang demikian tidak hanya dikhususkan bagi para pejabat pemerintah, tetapi juga kepada seluruh masyarakat yang ingin bangsanya makmur dan disegani, sehingga tidak ada lagi demo-demo yang berujung pada tindakan anarkisme, setiap orang dapat mengkritik pemerintah dengan sopan dan santun yang merupakan kekhasan orang timur, tidak ada lagi politik uang, mengungkapkan argument-argument secara kasar, mencaci maki dll. Karena tindakan-tindakan demikian jelas-jelas tidak bernilai, melainkan merusak dan merugikan orang lain. Selain itu, pemahaman yang benar tentang kebebasan akan membawa orang pada sikap saling menghormati dan menghargai. Mampu menerima perbedaan, saling bekerjasama untuk memecahkan persoalan-persoalan yang terjadi di negeri ini, sehingga persoalan-persoalan yang terjadi menimpa negeri yang kita cintai ini tidak hanya dilimpahkan kepada pemerintah, tetapi menjadi tanggungjawab kita bersama, termasuk menjaga dan merawat fasilitas-fasilitas umum. Jika ada orang yang berusaha merusaknya kita sama-sam menyelesaikannya dalam semangat kekeluargaan dan dalam hukum yang berlaku. ***