Saya bermain ke salah satu los Pasar Cempaka. Saya berada di gerai tempat menjual alat-alat kue. Suasana ketika itu tampak lengang. Tak banyak manusia hilir mudik di sekitar gerai. Saya salah satu konsumen yang memasuki gerai alat-alat kue itu. Di gerai sederhana tersebut tampak seorang lelaki sedang sibuk memotong seng-seng alumunium untuk dijadikan cetakan kue. Sejurus kemudian datang seorang perempuan berkerudung. Perempuan ini tampak mengambil cetakan untuk membuat bolu kukus.
Saya berusaha menanyakan kepentingan perempuan itu membeli cetakan bolu kukus. Apakah ia sekadar membuat kue untuk konsumsi sendiri atau untuk diperdagangkan. Setelah berbasa-basi sebentar saya mendapatkan keterangan bahwa perempuan ini membeli cetakan kue bolu kukus untuk kepentingan dagang. Pembicaraan saya dan perempuan itu semakin lama-semakin seru. Ia berbagi petunjuk praktis dan pengalaman sebagai pedagang bolu kukus. Padahal, saya tidak bertanya mendetail tentang aktivitas dagang dan cara membuat bolu kukus. Akan tetapi, perempuan ini sangat antusias membagi pengalamannya berjualan kue kukus.
Perempuan paruh baya ini baru satu bulan memasarkan bolu kukus buatannya ke pasaran Kota Pontianak. Untungnya lumayan dan sangat menjanjikan. Kue dipasarkan secara mandiri. Ia menitipkan kue di warung kopi, warung sembako, dan gerobak-gerobak gorengan. “Titip di warung sembako laku. Ibu-ibu minimal beli 2 untok anaknye,” ujar ibu penjual bolu kukus. Kue yang dititipkan tidak banyak pada tiap lokasi yang dititipkan. Dua puluh buah bolu kukus yang dititipkan pada masing-masing tempat biasanya ludes terjual.
Infiltrasi pasar yang dimasukinya merambah kawasan Pontianak Selatan, Kota, Tenggara, dan Barat. Namun, tidak untuk kawasan Jeruju. Ia tidak sampai hati menitipkan kue di kawasan Jeruju karena ada penjual bolu kukus yang sudah terlebih dahulu menguasai pasaran. Alasannya bukan takut bersaing dan khawatir tidak laku melainkan keprihatinannya terhadap penjual bolu kukus yang sudah menguasai pasaran Jeruju.
“Bolu kukosnya ndak ngembang, rasenye tadak terlalu nyaman. Kalau saya titip bolu kukus di Jeruju, bise-bise bolu kukus yang udah ade itu tadak laku,” cerita sang penjual bolu kukus.
Sang penjual bolu kukus ini berniat untuk menemui dan mengajarkan penjual bolu kukus Jeruju. “Kesian saye, bolu kukusnye tadak laku kalok ndak ngembang,” tegas ibu bolu kukus yang saya jumpai ini.
Sebenarnya rumus membuat bolu kukus enak dan mengembang itu gampang. “Aek ndak boleh kurang, harus banyak, setiap selesai ngukos selama 10 menit tambahkan terus aek, api kencang, cetakkan kue harus besak lobangnya,” cerita sang ibu bolu kukus. “Supaya ndak anyer dengan bau telok, kocok duluk telok dengan vanili yang berkualitas botolan seharga Rp3500, jangan yang vanili eceran seharga 500 ndak mempan, bise pahit,” jelasnya.
Ibu rumah tangga ini sangat antusias menceritakan cara memasak bolu kukus kepada saya. “Adek mau dagang ape?” tanya penjual bolu kukus ini kepada saya.
“Saya mau belajar buat bronis untuk makan sorang,” jelas saya.
“Oh ye la,” ujarnya.
Membuat bolu kukus dilakoninya sendiri. Setelah mengantar anak sekolah dan les perempuan penjual bolu kukus itu mulai mengocok telur. Modalnya hanya 13 ribu per resep. Satu resep itu menghasilkan 35 biji bolu kukus. Ia menjual bolu kukus 1000 per biji. Bisa dihitung sendiri keuntungan yang didapat ibu penjual bolu kukus ini.
“Lumayanlah. 20 % untok toko. Biase dah tu,” ujarnya..
“Ndak nyobe kue lain Bu?” Tanya saya.
“Kate pengusaha yang nasehati saye tu, kite harus fokus. Saye fokus bolu kukos jak biar dikenal sebagai Ibu Bolu Kukos,” jawabnya sambil tersenyum.
Kisah ibu penjual bolu kukus ini sangat inspiratif. Setiap ada usaha yang sungguh-sungguh pasti ada jalan keluar untuk maju dan berkembang. Banyak cara untuk mencari usaha sampingan tanpa harus meninggalkan pekerjaan utama sebagai ibu bagi anak-anak di rumah.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
