You are here

Cerita Tetes Tetes Bisu

Matahari bersinar sangat terik di siang ini. Aku yang sedang bermain dengan sesamaku menyadari, sebentar lagi akan ada perpisahan. Oh, ini yang paling ku benci. Tapi sebagian temanku yang lain malah menyukainya. Mereka bilang akan ada petualangan hebat setelah perpisahan ini. Celakanya, aku berada pada permukaan paling atas, kemungkinan itu telah ada di pelupuk mataku. Aku tak bisa menghindarkannya lagi.

Seketika setelah itu, serta-merta aku merasa tubuhku ringan. Terhubung langsung dengan udara, semakin lama semakin tinggi. Ku lihat semuanya tersenyum melihat kepergian ku. Bagi sesamaku ini adalah kabar baik, karena tidak semua di antara kami yang bisa terangkat jauh mengudara sepertiku. Akhirnya aku terhenti disuatu titik, dimana aku melihat banyak sesamaku yang berkerumun di tempat ini, kerumunan kami ini membentuk sesuatu yang biasa di sebut “awan” oleh manusia.

Aku masih merasa asing di tempat ini, karena tidak ada satupun yang ku kenal dan tidak ada satupun yang menyadari keberadaanku. Tidak lama setelah itu, ada tetes asing yang menyapaku, “Hey, sepertinya aku baru melihat mu, apakah kau baru pertama kali ikut dalam ekspedisi ini?”

Aku menjawab dengan lemah, “ya, dan aku tak pernah menginginkannya sama sekali.”

Tetes itu terkejut mendengar jawaban ku, “proses ini yang membuat mu lebih berguna dan lebih berpengalaman teman. Aku sudah ketiga kalinya dipilih oleh sang Surya untuk menjalankan misi mulia ini. Seharusnya kau merasa beruntung, sama sepertiku.”

Ada satu hal yang mencambuk keinginan ku untuk tidak berlesu-lesu lagi. Aku ingin menjadi berguna bagi isi alam semesta ini, meskipun aku harus menjalani ini, proses yang sedari dulu selalu ku hidari. Kemudian aku berkata lagi, “aku tidak mengenal siapapun disini.”  “nama ku dodo, sekarang kau telah mengenal salah satu tetes berpengalaman yang ada disini, aku berjanji akan menemani mu disini. Mari kita satukan tetes kita, agar aku bisa menjadi pemandu perjalanan mu kali ini. Bagaimana?”

Seketika aku tersenyum mendengar kata-kata dari dodo tadi. Akhirnya pun aku setuju untuk menyatukan tetes kami. Ukuran tetes kami menjadi lebih besar dari sebelumnya. Menyadari hal itu, aku dan dodo terkekeh geli. Sang petir menyambar, sang Guntur menggelegar, aktivitas mereka menandakan sudah waktunya kami untuk terjun bebas. Kami terjun sambil berteriak, “whoaaaa!”. Semuanya bersuka cita, ada yang menghempas atap rumah manusia, ada yang terjun di sawah para petani, dan ada pula yang terjun menghempas hutan-hutan yang rimbun dan lebat daunnya.

Ternyata perjalanan ini tidaklah seburuk yang ku kira. Malahan, aku sepertinya setelah kembali ingin merasakan proses ini lagi. Merasakannya lagi, lagi dan lagi. Karena kami sibuk memerhatikan titik jatuh tetes yang lainnya, kami tidak sadar kami terjatuh ditempat yang tak mengenakkan. Taukah kalian tempat apa itu? Tempat itu adalah bekas lahan hutan yang sudah habis terbakar. Aku terkejut, ternyata di belahan bumi lainnya ada tempat seperti ini, aku tidak pernah membayangkan tempat seperti ini sebelumnya.

Biasanya jika tetes tetes yang masuk kedalam hutan, merasa sangat senang. Karena akan memiliki pengalaman yang lebih banyak lagi sebelum mereka kembali ke tempat asal mereka. Mereka akan masuk kedalam lapisan tanah, di dalam sana nanti mereka akan berkenalan dengan rambut-rambut akar, kemudian mereka akan di masukan ke dalam tubuh tumbuhan melalui rambut akar tersebut. Di sana tetes-tetes itu akan dingkat oleh sesuatu yang bernama xylem hingga sampai di mesofil daun. Dengan bantuan carbondioksida, tetes-tetes itu akan berubah menjadi gula sederhana yang biasa disebut oleh manusia sebagai glukosa. Tetapi bagi tetes yang tidak beruntung,  mereka akan di keluarkan lagi dari tubuh daun melalui hidatoda. Beruntungnya hal tersebut hanya terjadi pada musim penghujan saja.

Kami memang jatuh dilahan hutan, lahan bekas bakaran hutan lebih tepatnya. Tidak ada yang bisa kami lakukan disini, karena tidak ada kehidupan disini. Kami hanya tergenang, kata dodo mungkin kami bisa mengalir ketempat lainnya tetapi itu memerlukan waktu lagi. Kami harus menunggu hingga ada tetes-tetes lain yang memenuhi tempat kami tergenang, sehingga kami bisa mengalir ketempat lainnya.

“do, apa yang terjadi pada lahan ini? Mengapa ada lahan seperti ini?” tanyaku iba melihat kondisi lahan ini.

Dodo memandangiku dengan ekspresi yang tak keruan. Kemudian ia mulai bercerita, “manusia masa kini telah memanfaatkan potensi alam secara berlebihan, oleh karena itu lambat laun telah terjadi kerusakan alam dimana-mana. Selama sepuluh tahun terakhir ini laju kerusakan hutan mencapai 2 juta hektar per tahun dan penyebab terbesarnya adalah ini, penebangan liar yang kemudian berlanjut pada pembakaran hutan.” Dodo menghindarkan dirinya dari tetes-tetes limbah bekas minyak bensin kemudian lanjut bercerita,”kerusakan hutan ini mengakibatkan kerugian sebesar 83 miliar perhari atau 30,3 triliun per tahunnya. Kau lihatkan, betapa serakah dan egois nya manusia masa kini?”

Aku tercengang tak percaya, ternyata kerusakan-kerusakan yang terjadi di laut tempat ku berasal merupakan ulah manusia-manusia tak bertanggungjawab. “jadi, semua kerusakan alam di akibatkan oleh para manusia itu do?” aku teringat terumbu-terumbu karang yang rusak yang telah meningkatkan abrasi pantai. Terumbu karang yang rusak sudah tidak mampu menahan tetes kami, dan angin setiap waktunya secara konstan menghempaskan kami ke bibir pantai, tidak ada yang bisa menghalangi kami sehingga kami meraup pasir pantai lebih banyak dari pada sebellumnya. Akibat hal tersebut, kerusakan biota yang hidup disana pun tidak dapat dihindari lagi. Perlu ditekankan bahwa manusialah penyebabnya, bukan kami.

 tidak semuanya akibat ulah manusia, kerusakan alam akibat gempa bumi bukan merupakan ulah manusia. Melainkan teguran dari Tuhan untuk umat manusia, menurutku sih seperti itu. Contohnya tsunami yang terjadi di Aceh pada tahun 2004, aktivitas gunung merapi pada tahun 2006, semburan lumpur panas porong pada tahun 2006 dan masih banyak lagi bencana yang merusak ekosistem kita. Tapi kita bergerak hanya karena hokum alam, kita tidak bisa melakukan apapun. Daya tidak sedikitpun memihak pada kita.” Wajah dodo tampak putus asa. Dodo tampak sedih harus menceritakan kembali kehancuran ekosistem yang mungkin sudah lama diketahuinya.  Aku tak menjawab apapun lagi setelah penjelasan dodo yang terakhir. Kami tidak berkata-kata lagi setelah itu. Semuanya terhanyut dalam fikiran masing-masing.

Sudah dua puluh enam jam kami disini, aku sudah muak melihat pemandangan yang miris seperti ini. Karena aktivitas aku dan dodo hanya tergenang disini, dua puluh enam jam bukanlah waktu yang singkat menurutku. Tiba-tiba saja terdengar suara Guntur dan petir yang bergemuruh. Oh, Tuhan! Inilah akhir dari penantian panjang kami selama dua puluh enam jam. Tak sabar aku menanti tetes-tetes itu berjatuhan. Dalam beberapa menit saja tetes-tetes itu sudah berhamburan di lahan penuh duka ini, secara otomatis aku dan dodo mengalir menuju dataran yang lebih rendah lagi. “yuhuuuuuuuuu, selamat tinggal lahan duka!” teriakku.

Tetesku dan dodo masih menyatu, kami masih dalam satu tetes yang lebih besar dari biasanya. Ketika kami meluncur lewat parit-parit kecil tepat di sebelah kebun kacang merah milik warga, dodo melepaskan tetesnya. Aku bingung dengan apa yang ia lakukan, hingga akhirnya kami sampai di sebuah bendungan yang memiliki dua pintu. Akhirnya aku mengerti apa maksud dodo, Ia tak ingin lagi berpetualang bersama ku. Aku sedih memerhatikan tingkah anehnya, aku masih ingin bersahabat dengannya.

 “baiklah, kita berpisah dipersimpangan ini. Aku tidak bisa terus bersama mu, kau harus mencari pengalaman yang lebih banyak tanpa diriku. Percaya lah kau akan mendapat pengalaman yang lebih indah lagi setelah ini. Selamat tinggal teman.” Dodo membiarkan tetesnya mengalir mengikuti arus, semakin jauh dan semakin jauh. Kini tetes dodo sudah tak nampak lagi. Selamat tinggal dodo.

Setelah mengalami proses yang menyenangkan, akhirnya tetes ku berada di tubuh tumbuhan yang indah, wangi, dan sangat menawan. Aku bersemayam di mesofil daunnya dan sedang diproses untuk menjadi cadangan makanan baginya. Aku bisa menjadi cadangan makanan yang baik untuk mawar ini jika saja di saat proses pemasakanku tidak ada tangan jahil yang memetik mawar ini. Seketika semua aktivitas didalam daun terhenti, karena tangkainya sudah terpetik oleh manusia itu.

Mawar ini di taruh di tempat yang asing bagiku, tidak lama mawar ini di sublime dan aku terpisah dari tubuh mawar setelah di sublime, aku di bawa ke suatu tempat yang berisikan benda-benda aneh. Di sana tetes kami di campurkan berbagai cairan, dan kami di kemas di dalam botol kecil. Dalam satu kotak botol-botol itu berdesakan. Saling menghimpit, menindih, menginjak, tidak ada yang ingin mengalah. Aku gerah!

Di rak yang indah terbuat dari kaca aku di letakkan. Tidak lama seorang gadis mengambilku dan menyemprotkan tetes ku pada lehernya. Seketika tetesku terpecah, terbagi-bagi menjadi molekul air yang lebih kecil lagi. Aku melengos kesal. Aku kini bersemayam di pori-pori seorang manusia, yang kini ku benci keberadaannya di muka bumi ini. Aku kembali teringat dodo, sosok yang memberikan makna kehidupan yang sesungguhnya kepada ku, setetes molekul air yang naïf.*