You are here

Budaya Timur dalam Menghomati Orang Berusia Lanjut

     Tiga minggu yang lalu atas undangan ketua komunitas “ World Lee ”, saya menghadiri  kongres marga Lie Internasional ke-14 di Taiwan, yang dihadiri 60 negara dan daerah. Dalam kesempatan ini Indonesia mengutus delegasi 29 orang yang terdiri perwakilan  Jakarta 15 orang, Perwakilan Medan 10 orang, dan Perwakilan Pontianak 4 orang yang dipimpin X.F.Asali selaku ketua kelompok. Kongres diadakan di West Lake Resort Village , Kabupaten Miau Li pada tanggal 11 s/d 14 Oktober 2011, yang diikuti  ± 1.500 orang. Kongres semacam ini diadakan setiap tahun sekali, dengan negara penyelenggara yang berbeda, berdasarkan keputusan rapat pleno “World Lee”. Indonesia pernah dipercaya 2 kali menyelenggarakan  pertemuan  tsb , yaitu tahun 2006 di Bandung dan 2008 di Jakarta. Tujuan Konggres adalah :

     Mempererat tali silaturahmi serta memperluas hubungan komunikasi antara saudara semarga, mengarahkan dan menaati serta mendukung peraturan-peraturan pemerintah setempat (menjunjung langit, di mana bumi dipijak). Menyusun rencanakan Kongres tahun 2012, mengadakan rapat-rapat anggota-anggota atau pengurus bila dipandang perlu dan lain-lain.

     Pada kongres ini Panitia penyelenggara di Taiwan  mempersiapkan dengan sangat matang  dan rapi untuk memberikan rasa aman dan kenyamanan bagi para peserta dari seluruh penjuru dunia, akomodasi yang memadai, mengadakan acara ramah tamah dengan hiburan aneka pertunjukkan kebudayaan. Kongres diakhiri dengan saling menukar cendera mata dari masing-masing delegasi utusan. Pada kesempatan ini  kami utusan Pontianak, Indonesia secara simbolis  memberikan  kenang-kenangan berupa miniatur Tugu Khatulistiwa  buah karya seniman Pontianak  kepada Ketua Marga Lee  Taiwan, dr.   Lee Sim Yun,  sembari kami   mempromosikan object wisata Tropis alami  dan  peluang investasi yang terbuka di bumi Khatulistiwa ini.

     Delegasi Pontianak tiba di Taiwan 2 hari lebih awal, yang berkesempatan  dapat menyaksikan Taiwan merayakan hari proklamasinya  yang  lebih dikenal  dengan “Double Ten days ”, yang tahun ini merayakan HUT ke-100 berdirinya Republik of China, yang dicetuskan oleh “Founding Father” Dr. Sun Yat Sen pada tanggal 10 Oktober 1911. Hari tersebut  juga diperingati oleh Pemerintah Republic People of China , khususnya di  daerah Propinsi Kwang Tung, tempat kelahiran Dr. Sun Yet Sen di daratan Tiongkok, sebagai hari revolusi Xin Hai.

     Untuk merayakan Hari proklamasi ke-100 Republic of China , semua tempat wisata pemerintah di Kota Taipei, dibebaskan dari kewajiban membeli  karcis (gratis) untuk semua wisatawan selama 3 hari. Kami kebetulan dan beruntung  bisa mempergunakan kesempatan ini juga.

     Sesudah Kongres selesai tanggal 14 Oktober, kami  menyusuri turun ke wilayah  Selatan pulau Formosa mengikuti rombongan Komunitas rombongan LEE Clan  Kota Kao Hsiung, kota terbesar kedua sesudah Taipei, ibu kota Taiwan.

Di Kao Hsiung adalah kota pelabuhan Internasional  di Selatan, selain industri & perdagangan yang  berkembang kehidupan kaum agraris  juga  dibina dengan baik, petani maupun nelayan dapat hidup dengan makmur dan mandiri  dalam semangat yang pluralism.

Menyaksikan sisi-sisi kehidupan keseharian mereka, ada satu hal yang memberikan   kesan yang mendalam, yaitu tercermin dari bagaimana sikap  pemerintah setempat  yang menjunjung tinggi  dan melaksanakan  nilai-nilai ajaran  budaya bangsa Timur dalam menghormati dan menghargai orang tua, termasuk  saya yang  manusia usia lanjut / manula  asing juga mendapat fasilitas penghormatan / pelayanan yang sama. Rupanya Pemerintah  menerapkan  discount 50 %  tiket transportasi bagi para manula berusia 65 tahun ke atas  

     Kami alami pelayanan  tersebut  sewaktu naik ferry dari Love Pier  (Cin Ai Ma Thow), semacam dermaga water front city yang ada  di Kota Kao Hshiung. Dari situ kami   menuju  ke pulau Khi Cin yang memakan waktu  tempuh 10 menit, manula cukup membayar  NT$ 10  dari  harga tiket sebenarnya berharga NT$.20 . Caranya dengan memasukkan koin dollar ke kotak otomatis yang disediakan, tanpa dijaga/diawasi oleh petugas, yang berarti semua penumpang harus jujur dan sadar diri. Ferry ini berlayar  setiap  45 menit sekali  pulang-pergi  dan selalu tepat waktu, termasuk tak ada penumpang ,asal waktu tiba harus berangkat.

     Selanjutnya kami alami lagi  pada tanggal 19 Oktober 2011 , kami akan take off  dari Bandara Internasional Chiang Khai Sek di Tao Yuan menuju Kuala Lumpur, untuk itu kami sengaja memilih  mencoba  menggunakan transportasi darat  Kereta api  dari kota Kao Hsiung di Selatan menuju  ke  Kota Taoyuan di Utara yang berjarak ± 300 Km. Perjalanan ini yang memakan waktu tempuh 1 jam 30 menit dengan 4 kali pemberhentian  (turun naik penumpang selama 3 menit dan selalu tepat waktu) sepanjang perjalanan. Kami mendapatkan pelayanan yang baik  dengan hanya membayar tiket ½ harga lebih murah yaitu NT$ 665 saja (Yang seharusnya  berharga NT$.1.330). Pada saat membeli tiket, kami yang manula asing, cukup  menunjukkan pasport Indonesia  sebagai ID card  kepada petugas loket, terus  membayar dan  langsung memperoleh tiket  elektronik  dengan informasi jelas, sudah  tercantum padanya meliputi : Tanggal tiket, nomor train, stasiun keberangkatan, stasiun tujuan, waktu berangkat & tiba, nomor gerbong, nomor tempat duduk, harga tiket dan  tiket berlaku 1 hari penuh sesuai dengan yang tertera di tiket. Kereta antar kota ini full-AC dan mulai beroperasi  pukul 06.30 s/d 23.00, berselang setiap setengah jam sekali. Bagi saya pribadi, rasanya lebih enak naik kereta api   ini dari pada naik pesawat terbang, karena selain pelayanan yang cepat dan tepat waktunya,  tidak perlu mengkhawatirkan gangguan cuaca dll, juga di kereta tersedia tempat duduknya luas, bersih, aman dan nyaman seperti layaknya  naik  pesawat terbang kelas businness, dengan semua fasilitas seperti pada  pesawat terbang.

     Sebagai sesama bangsa Timur, saya salut dan  bangga  dengan penghargaan / pelayanan serta  penghormatan mereka kepada orang orang berusia lanjut. Bahkan  pada tiket tercetak  2 kata yang membuat hati  terharu  yaitu  kata “cing  lau“ (artinya: hormati  orang  tua)

     Saya pun jadi bermimpi  alangkah indahnya  negeri ini  jikalau juga benar-benar bisa menghargai orang tuanya, karena mengingat pengalaman  saya yang sudah berusia 80 tahun di negeri sendiri, sudah 2 minggu terakhir memenuhi undangan resmi Kantor kecamatan, ada jadwal   tanggal dan  waktu  untuk  perekaman  pasphoto E KTP, sampai sekarang kesulitan, karena nomor urut saja tidak dapat, bahkan disarankan "petugas kecamatan " agar datang lagi  pagi-pagi  pkl.06:00   antri  untuk memperoleh  nomor  saja. Kapan ya ? kita juga dapat belajar dari negeri tetangga menjadi negara yang maju dalam memberikan pelayanan, khususnya kepada  para  orang-orang tua.

     Sekian, sekilas  kesan saya  dalam perjalanan di negeri orang, khususnya pelayanan & Penghargaan  kepada   orang-orang tua yang berumur 65 tahun ke atas, semoga kita dapat mengambil hikmahnya  memberikan pencerahan pemikiran bersama untuk kemajuan bangsa dan negara tercinta.

 

 

 

                                                                             Pontianak , 31 Okt 2011

                                                                             Salam sejahtera.              

                                                                                  X. F. Asali.

                                                                             Jl.Sisingamangaraja ,Pontianak