You are here

Ayahku dan Hutanku

Mesin-mesin itu serasa membuat telingaku tuli, setiap kali aku mendongak di jendela. Seiring dengan suaranya yang riuh, pohon-pohon tumbang begitu saja. Dahan dan daun-daunnya jatuh tak berdaya, pasrah menghadapi ganasnya serbuan mesin-mesin tersebut.

“Huuuh, ayah !” aku mendengus kecil.

Kulihat ayah berdiri tidak jauh dari pohon-pohon tumbang itu. Seulas senyum tergores dibibirnya ketika satu persatu pohon jatuh tak berdaya. Aku terus menatap ayah, hingga silau matahari membuyarkan tatapanku. Kini sinar matahari terus terbias di jendela rumahku, karena pohon-pohon yang biasa menghalangi biasan matahari sudah ditebangi.

Sejak aku dan ayah pindah ke sini, sekikar tiga tahun lalu sejak itu pula mesin-mesin membuatku bising. Sejak itu pula aku tab bisa menghirup udara segar atau merasakan semilir angin yang lembut menyapa kulit. Hijaunya pepohonan tak bisa lagi kurasakan, suara burung di pagi hari yang biasanya membangunkanku sudah tak lagi terdengar, berganti dengan suara riuh mesin-mesin itu. Aku bosan tinggal disini. Aku lelah melihat kerja ayah yang setiap hari menghabiskan waktunya disana. Aku sedih karena angin, kicau burung dan hijaunya pepohonan sudah tak bisa menemaniku seperti biasanya. Mereka sudah punah, samahalnya dengan hatiku yang lama-lama bisa miris, tak tega melihat pembalakan liar ini terus terjadi.

Aku duduk di meja makan, menunggu ayah keluar dari kamar mandi. Kini ia sudah sedikit bersih, tidak seperti tadi yang penuh dengan keringat. Keringat mungkin tidak masalah baginya, yang penting setiap hari ia bisa menghabiskan pohon-pohon tersebut dan mendapatkan hasil.

“Kamu kenapa ?” tanya ayah ketika aku tak berhenti menatapnya. Aku gelagapan dan dengan segera menghabiskan makanan yang sedari tadi mematung di atas piring.

“Aku harus mulai dari mana ini ? akut takut bicara dengan ayah” batinku. Aku melawan gejolak batinku yang sedari tadi ingin keluar. Tapi aku takut untuk mengeluarkab semua isi hatiku. Aku hanya seorang gadis lima belas tahun yang mencoba menyalahkan sikap ayah, walaupun aku sendiri merasa belum pantas. Aku mungkin akan ditertawakan ayah atau bisa saja dimarahi ayah ketika aku berlagak sok tahu dan sok dewasa.

“Ahh, aku bingung “ teriakku dalam hati. “kamu kenapa Sela? Dari tadi ayah lihat melamun terus.” Tanya ayah sembari memasukkan makanan ke mulutnya.

“A…a..apa yah ? Sela gak kenapa-napa”. Ayah kembali melanjutkan makannya. Sementara aku mencari ribuan kata untuk membuka pembicaraan. Hingga akhirnya aku memejamkan mata dan menarik nafas sejenak.


“Ya” tukasku membuka suara. “Ayah sampai kapan terus menebang pohon ?” tanyaku sedikit gugup. Ayah menyengitkan dahi. Tampak jelas beribu pertanyaan di wajahnya.

“Maaf ayah, Sela lancang bicara seperti ini lke ayah. Tai jujur, Sela nggak suka ayah setiap hari menebang pohohn. Sela ngak mau semakin lama pohon-pohon itu akan punah dan hutanya bisa gundul yah” ujarku seraya menetap wajah ayah. Ekspresi ayah mulai berubah. Aku tahu ia pasti marah atas ucapanku. Sorot matanya tajam, membuatku menunduk dan tak berani beradu pandang dengannya.

“Atas dasar apa kamu bicara seperti itu?” nada suara ayah sedikit meninggi. “Maaf yah”. “kamu tahu ? makanan yang ada di meja ini asalnya dari mana ? semua ini ayah beli dari hasil kerjaan ayah. Kalau ayah tidak bekerja, kamu mau makan apa ? makan batu ? kita tidak akan bisa hidup tanpa uang dari kerja keras ayah” nada suara ayah semakin meninggi, Aku hanya bisa diam.

“Ayah bekerja keras setiap hari itu buat kamu, Sela. Kamu anak ayah satu-satunya, siapa lagi yang bisa menghidupi kamu kalau bukan ayah sendiri”.

“Tapi yah, masih banyak kerjaan lain yang lebih halal, yang resikonya tidak terlalu besar. Ini sama saja penebangan liar, yah. Kasihan pohon-pohon dan hewan-hewan disana, Kalau saja mereka punya akal, mungkin mereka akan demonstrasi, yah” ucapku membalas kata-kata ayah. Aku sedikit lega. Gejolak batinku sudah lama kupendam sudah terlepas. Tak lagi terkurung dalam hatiku.

“Ayah juga perlu tahu, tanah longsor, banjir itu terjadi karena..” “Cukup Sela” kini nada suara ayah mencapai volume tertinggi. Aku kaget karena  tiba-tiba ayah memotong ucapanku. Tak terasa, aku meneteskan air mata. Ada sedikir rasa penyesalan dihatiku karena berani menentang ayah. “jangan sampai tangan ayah terlepas kewajahmu”. Ucapan ayah benar-benar membuatku sedih. Aku segera berlari ke kamar, tak berani menghadapi ayah yang sedang emosi.

Mataku sedikit berat terbuka, mungkin karena aku habis menangis semalaman. Aku bergegas keluar kamar, menuju dapur. Saat melewati ruang tamu, mataku terbelalak. Aku kaget setengah mati. Kulihat jam menunjukan pukul sepuluh.

“Astagahfirullah, aku kesiangan, untung saja ini hari minggu”. Tapi biasanya aku tak pernah sesiang ini, karena suara mesin-mesin itu pasti membangunkanku tepat jam enam pagi. Namun, ada yang aneh hari ini, tak ada riuh suara mesin-mesin tersebut atau orang yang lalu lalang di hutan. Aku berinisiatif keluar, ingin melihat secara jelas, barangkali aku bisa menemukan jawaban mengapa mesin-mesin tersebut tak bersuara.


Aku mulai berjalan menuju teras. Namun tiba-tiba langkahku terhenti saat kulihat ayah duduk sembari mengepulkan asap rokok. Ia melamun. Pikirannya menerawang seiring kepulan asap-asap rokok yang terbang terbawa angin. Aku memberanikan diri mendekati ayah, meski sejatinya aku sedikit takut.


“Ayah” tukasku membuyarkan lamunannya. Ayah menoleh mendengar suaraku. Ia tersenyum melihatku dengan tatapan lembut. Benar-benar tatapan seorang ayah. Aku sanggat merindukan tatapan itu. “Pulas sekali kamu tidur mala mini ?” ucap ayah membalas ucapanku. Aku kaget, ucapan ayah begitu lembut. Belum sempat aku membalas ucapanya, ia sudah terlebih dahulu berbicara. “Sela, maafkan ayah, ayah tidak akan mengecewakanmu lagi”. Mendengar penuturan ayah, aku tersenyum. Tak terasa air mata haru membasahi pipiku. Aku segera merangkul ayah.*