Revitalisasi sastra rasanya tidak berlebihan disebut demikian, tengah meraja di kantong-kantong imajinasi para pegiat sastra Kalbar. Terhitung dari pelatihan penulisan kreatif yang diselenggarkan oleh Borneo Tribune bagi mereka yang peduli terhadap sastra (Borneo Tribune, 12/9/2011). Karantina bagi para peserta penulisan cerpen yang diadakan oleh Club Menulis STAIN Pontianak. Kemudian, penyerahan kumpulan naskah cerpen Kalbar kepada Pak We Club Menulis STAIN Pontianak, Yusriadi.
Tidak kalah pentingnya bagi wacana sastra Kalbar, peluncuran antologi puisi bersama Republik Warung Kopi di sebuah galeri seni, yang dihadiri juga oleh Bang Mering. Antologi ini dipenuhi oleh karya-karya penulis muda negeri Borneo, termasuk traveller writer, Bang Pay. Karya-karya puisi itu menyuguhkan kearifan lokal Kalimantan Barat.
Kepedulian pengarang-pengarang muda terhadap keberlangsungan sastra merupakan indikasi positif bagi geliat sastra di Kalimantan Barat. Atmosfir sastra tidak bisa mengemuka begitu saja seperti membalikkan telapak tangan, tetapi butuh proses yang terus-menerus bagi eksistensinya. Pelatihan hingga peluncuran karya sastra adalah proses bagi eksistensi sastra Kalimantan Barat.
Ambil bagian bagi satu aspek kehidupan, sastra, dapat disebut sebagai pelestarian dan pemeliharaan satu sisi kebenaran yang diembannya. Kebenaran sejatinya muncul dari berbagai aspek kehidupan dan sudah barang tentu agama.
