You are here

CITIZEN & JURNALISM

Jawa di Tanah Borneo

  Menilik keberadaan orang Jawa di Kalimantan Barat, itulah yang dapat saya simpulkan pada pertemuan Club Menulis STAIN Pontianak yang digelar pada Jumat (9/10) lalu. Pertemuan itu  membahas tentang penelitian yang akan mencari tahu seluk-beluk kehidupan orang Jawa di tanah Borneo. Mulai dari kedatangannya, kehidupannya, kebudayaannya hingga adat istiadatnya.
Keberadaan orang Jawa di Kalbar, memang sudah menjamur di berbagai daerah. Mereka terkadang hidup berkelompok maupun hidup bercampur dengan warga pribumi.
Dalam penelitian itu, disepakati lokasi penelitian tidak terpusat pada masyarakat Jawa yang hidup berkelompok, seperti masyarakat Jawa yang ada di Desa Rasau Jaya dan Desa Jawa Tengah di Jalan Trans Kalimantan. Akan tetapi penelitian itu juga dilakukan kepada orang Jawa yang hidup secara membaur dengan yang lain. Seperti yang ada di Wonodadi, Gang Suditrisno Gang Sukasari, Gang Madyosari yang letaknya di jalan Prof. M. Yamin dan  orang Jawa di tempat lainnya .
Mengenai penelitian itu, Saya pun semakin penasaran mengenai sebaran masyarakat Jawa yang datang di tanah Borneo beberapa puluh tahun silam itu. Pada Sabtu sore, usai pertemuan club itu, kebetulan saya lewat di Jalan Wonodadi 2, Desa Arang Limbung. Jalan yang baru diaspal itu amat sepi. Di pertengahan perjalanan, saya melihat ada sebuah warung kecil yang menyediakan barang-barang sembako. Di depan toko itu terdapat  dua orang tua yang tengah ngobrol.
Berulang kali saya memanggil pemilik warung, karena saya ingin membeli sesuatu. Karena sang empu warung tak kunjung hadir, saya pun duduk di kursi kayu berhadapan dengan kedua pria paruh baya itu. Sesekali saya mengotak-atik Hp, melihat pesan yang masuk.
Tak lama kemudian orang tua yang satunya pergi, sementara masih ada orang tua yang duduk tepat di hadapan saya. Saya pun melempar pertanyaan mengenai orang Jawa di Jalan Wonodadi itu. Karena ketika saya duduk, saya mendengar percakapan mereka dengan menggunakan bahasa Jawa.
Pria paruh baya itu pun mengatakan bahwa hampir sepanjang Jalan Wonodadi 2 warganya adalah orang Jawa. Namun ada sekelompok orang Sambas yang mendiami di ujung jalan tersebut.
Ia kemudian menambahkan, bahwa orang Jawa yang bermukim bukan orang transmigran, melainkan orang Jawa yang mencoba merantau dengan sendirinya.
“Dulu pertama kali cuma ada belasan orang Jawa. Meraka datang sendiri-sendiri sebelum kemerdekaan. Sekitar tahun 1930-an, dan bukan transmigran seperti di Desa Jawa Tengah, Desa Parit Keladi dan Desa Rasau Jaya,” katanya.
Dalam penuturannya, orang Jawa yang datang pertama kali itu bukanlah membuka lahan, melainkan bekerja sebagai buruh. Dan seiring dengan pendapatan yang didapat dari hasil keringat, mereka kemudian membeli tanah di daerah tersebut.
Belum dalam pertanyaan saya, sang pemilik warung telah datang dan memberikan barang yang saya inginkan. Kami pun melakukan transaksi jual beli.
Namun sayang, komunikasi kami tak cukup panjang dan dalam. Saya harus kejar waktu, karena sore sudah menjelang dan saya harus cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan. Saya pun berpamitan dan meninggalkan pria paruh baya itu, dengan harapan, semoga esok akan ada waktu luang untuk bertanya lebih dalam lagi.
Dalam perjalanan, saya terus teringat tentang orang Jawa di Kalimantan Barat terutama yang berada di dekat tempat tinggal saya. Jika menyebutkan orang Jawa, saya selalu ingat makanan. Mulai dari bakso, mie ayam, pecel lele, hingga penjual perabot rumah tangga yang biasa mereka jajakan dengan cara memikul barang dagangannya dan datang ke pintu-pintu rumah.
Orang Jawa memang dikenal tekun. Maaf bukan bermaksud membanggakan orang Jawa. Dalam pengamatan saya, sepanjang jalan Kota Baru, lima puluh persen pedagang makanan adalah orang Jawa. Seperti yang saya sebutkan di atas. Makanan itu antara lain, bakso, mie ayam, nasi goreng, ayam krispi, soto, martabak,  cendol, hingga pentol.
Kegigihan saja mungkin tak cukup tanpa ada modal ilmu. Ilmu dan pengalaman di kampung halaman yang kemudian diaplikasikan di Kota Pontianak, menjadi senjata ampuh untuk bertahan hidup di Kota Pontianak. Akibatnya, dengan seketika pedagang makanan olahahan menjamur di sudut kota.
Dengan begitu tentunya memberikan kontribusi bagi pemerintah, untuk memberantas pengangguran dan kemiskinan.

Tradisi Lokal dan Karya Imajiner

Saya mendapatkan kiriman cerpen dari beberapa penulis yang ada di Kalimantan Barat. Mereka adalah para penulis yang masih berusia muda. Para penulis ini menggambarkan warna lokal Kalimantan Barat dalam karya sastra yang dihasilkan. Bahkan, mereka tidak hanya mengeksplorasi latar lokal tetapi juga mengusung tradisi lokal yang masih diamalkan masyarakat Kalimantan Barat. Aliran peristiwa dirangkai dengan kata demi kata yang membangun struktur “rumah baru” yang estetik. Rumah baru berbentuk cerpen alih-alih dunia kata dalam kata ini berisi pemandangan yang membuat saya kagum. Rumah (baca: cerpen) dengan interior yang baru ini seperti membuka cakrawala saya dalam melihat tradisi lokal melalui dunia imajiner.
Rumah baru berbentuk cerita dari para penulis ini mampu merangkai simbol-simbol lokal dalam narasi yang hidup dan lincah. Tidak berlebihan kalau saya berhujah bahwa para penulis berusia muda ini cakap mengungkap budaya dalam sastra. Perspektif budaya yang mereka sajikan tidak bisa dipandang sebelah mata. Mereka memindahkan pengalaman budaya yang dirasa dan dilihat dalam dunia baru yang lebih humanistik dan literasi. Mereka memang belum bisa disejajarkan dengan Kunto Wijoyo dan….. Ronggeng Dukuh Paruk? tetapi mereka juga tidak bisa dikatakan tidak cukup baik dibandingkan penulis-penulis mapan yang menguntai budaya dalam dunia kata tersebut.
Diantara karya-karya cerpen yang membuat saya kagum adalah Mantra di Pelosok Kampung oleh Mahabbahtusy Syuaraa. Cerpen ini berkisah tentang petualangan dan pencarian tradisi lokal oleh beberapa mahasiswa demi kepentingan tugas. Sang penulis dengan cakap mendeskripsikan ketegangan praktik Mantra Timang Bubu dalam balutan watak dan perwatakan yang dimunculkan. Melalui cerpen ini saya mendapatkan satu pengetahuan lokal baru tentang ritual Mantra Timang Bubu sebagai tradisi yang masih hidup dalam masyarakat Sekura di Sambas. Ritual yang tidak kalah menarik dalam masyarakat Melayu di Kalimantan Barat dapat dilihat dalam cerpen Balada Bala oleh Riani Kasih. Cerpen ini menceritakan mitos dan keyakinan masyarakat tentang bala dan bencana yang didapat jika tidak melakukan sebuah ritual adat. Cerpen yang mendeskripsikan bagaimana harmoniasai adat dan manusia dalam menjaga hutan.
Tradisi lokal Kalimantan Barat tidak berhenti seperti yang digambarkan oleh Mahabbahtusy Syuaraa dan Riani Kasih saja. Tentu masih banyak tradisi lokal yang hidup dan berkembang di Kalimantan Barat yang bisa menjadi sumber inspirasi dan penulisan bagi kepentingan karya sastra. Tradisi lokal dan kearifan lokal masyarakat etnik Kalimantan Barat masih bisa diceritakan dan dikisahkan oleh para penulis sastra yang berminat untuk berpartisipasi dan mengabadikan namanya sebagai pencatat budaya lokal dalam bentuk karya sastra. Saya dan Yusriadi sebagai editor antologi cerpen masih membuka kesempatan bagi para penulis Kalimantan Barat untuk mengirimkan naskah agar dibukukan.
Naskah cerpen yang dikirim diharapkan bercorak lokal dan mengenalkan kearifan lokal Kalimantan Barat. Cerpen ditulis dengan huruf Times New Roman, ukuran huruf 12, spasi 1. Jumlah halaman 5—10 halaman. Mohon para penulis menyertakan profil diri dan kiprahnya dalam bidang kepenulisan dalam bentuk narasi. Saya tunggu sampai tanggal 26 Maret 2012.
Selanjutnya...

Regenerasi Kepemimpinan Nasional Kita Mandek

 

Sulitnya menwujudkan tokoh muda alternatif untuk memberikan pilihan kepemimpinan nasional yang lebih baik bagi masyarakat dan menyegarkan keadaan. Rotasi yang beredar sebagian masih orang-orang masa orde baru. Sehingga  budaya politik kita, masih tempatkan orang lama untuk pemilu 2014. Ini menunjukkan bahwa selama ini regenerasi kepemimpinan nasional tidak berjalan.
Faktor yang menyebabkan  terbatasnya calon pemimpin yang muncul di pentas politik. Pertama sebagian calon pemimpin potensial enggan masuk ke partai politik, karena  khawatir terjebak dalam politik transaksional yang korup. Kedua banyak pemimpin muda yang gagal berkembang karena  ikut-ikutan berprilaku korupp sehingga sulit menjadi negarawan.
Regenerasi kepemimpinan  di negeri ini selalu tersandera status qou. Sejak Indonesia merdeka, pengantian pemimpin seelalu ditunggangi kepentingan dan gagasan lama. Saat ini regenerasi kepemimpinan nasional  harus segera dilaksanakan, masyarakat sangat menantikan hal itu. Jika tokoh politik masih itu-itu juga, sama saja dinamika Indonesia dalam berdemokrasi berjalan di tempat.
Figur-fgur muda seharusnya dipersiapkan untuk mengikuti suksesi pemilu 2014. Paling tidak di masing-masing partai harus ada regenerasi kepemimpinan. Jadi  perlu dibutuhkan lebih banyak orang  tua berjiwa besar ibarat legowo.
Regenerasi elite kepemimpinan nasional di partai politik tidak berjalan dengan baik, karena  budaya politik kita malah mengutamakan figur lama sebagai patron. Kalau ada regenerasi, pemimpin muda masih dalam  baying-bayang tokoh tua.  Di masyarakat, tokoh itu dianggap sebagai patron yang menjanjikan keselamatan.
Kondisi ini berdampak buruk pada demokrasi dan politik di Indonesia. Kita akan kehilangan kepemimpinan alternatif dan pemilih tidak punya tawaran lain.  Proses politik akan terperangkap dalam lingkungan orang itu-itu saja.
Ada beberapa kunci regenerasi. Terdapat sejumlah prinsip penting yang perlu kita perhatikan dalam melakukan regenerasi. Diantara lain :  Pertama, Menyadari bahwa institusi tidak boleh  bergantung kepada orang, tetapi harus bergantung pada sistem pembinaan dan kaderisasi SMD (sumber daya manusia) yang berkualitas.
Kedua, kita harus menanamkan rasa percaya pada semua orang dalam  suatu institusi, bahwa akan selalu ada orang yang bisa dipersiapkan untuk menjadi pemimpin berikutnya setelah  memimpin sekarang. Ketiga, harus memberikan kesempatan kepada orang orang tersebut untuk mengantikan sebagian tugas tugas pimpinan secara bertahap.
Keempat, regenerasi kepemimpinan harus dimulai  dengan menciptakan situasi psikologis pada orang untuk dapat menyadari pentingnya regenerasi kepemimpinan serta mau untuk memuliakan proses itu. Kelima,  untuk memulai menyiapkan orang muda yang hendak dikaderkan menjadi pimpinan. Begitulah biarkan mereka mulai mengerjakan sebagian pekerjaan  yang digantikan itu. Yang penting harus menumbuhkan motivasi untuk mencapai sukses. (Penulis adalah dosen Universitasa Panca Bhakti Pontianak, kini mahasiswa pasca sarjana S3 pada Universitas Negeri Jakarta).

UN Bukan Ukuran Keberhasilan Pendidikan


Dalam hitungan bulan, urat otak para siswa akan dibuat tegang. Bagaimana tidak. Setelah menjalani proses belajar mengajar di bangku sekolah selama tiga tahun, nasib kelulusan harus ditentukan dalam hitungan hari. Nilai ujian anjlok, cita- cita ingin melanjutkan ke bangku kuliah pun bisa buyar.

Tapi itulah sistem pendidikan Indonesia. Demi mengejar ambisi ingin mencerdaskan para siswa harus ditentukan dengan mata pelajaran yang akan di-ujian-kan. Sungguh ironi.
Para siswa dipaksa menghafal mata pelajaran dengan sistem SKS (sistem kebut semalam). Jam bermain sehabis pulang sekolah juga harus dikorbankan. Para siswa harus menuruti kemauan pihak sekolah memberlakukan jam tambahan untuk membahas dan mengupas mata pelajaran UN. Malamnya, siswa juga harus dituntut belajar mandiri atau berkelompok.  
Beruntung bagi siswa telah memahami dan menyerap pelajaran apa yang disampaikan oleh seorang guru. Tapi tidak beruntung bagi siswa yang tidak memiliki kemampuan sepenuhnya untuk itu. Tentu mereka akan merasa frustrasi.  Tahapan selanjutnya adalah pasrah menghadapi di hari penentuan kelulusan. Sungguh beban yang tidak ringan untuk ukuran siswa zaman sekarang.
Pemerintah seharusnya banyak belajar dari negara maju. Jangan jauh- jauh. Tiru saja negara tetangga, Malaysia. Tidak percaya, coba pemerintah kita sekali- kali datang ke daerah perbatasan Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas. di daerah itu berbatasan langsung dengan Teluk Melano, Malaysia.
Borneo Tribune pernah mewawancarai salah seorang guru di Malaysia. Ia pun membandingkan sistem pendidikan yang di Indonesia, setelah mengetahui melalui media televisi, bahwa setiap siswa harus mengikuti UN untuk menyelesaikan sekolah.
Tapi tidak berlaku dengan di Malaysia. Untuk menentukan keberhasilan mutu pendidikan tidak mesti harus melalui UN. Dari setiap materi pelajaran yang diberikan kepada siswa setiap harinya, sudah cukup membantu mengukur keberhasilan mutu pendidikan. Tentunya harus ditunjang dengan sarana dan prasarana sekolah yang baik.

Karena kerajaan menilai, tidak ada siswa yang tidak cerdas dan pintar jika bersekolah, kecuali anak yang tidak sekolah. Baginya, UN bukan tolak ukur bagi siswa itu berhasil dalam menjalani proses belajar di sekolah. Bisa saja, ada siswa yang pintar selama di kelas, ketika mengikuti UN ia tidak lulus.
Bukan karena ia kurang belajar, tetapi karena konsentrasi siswa yang sedang drop. Karena tidak selamanya siswa bisa konsentrasi menerima menyerap mata pelajaran yang diberikan. Mungkin bisa saja siswa sedang sakit atau ada masalah lain di pribadi siswa, sehingga tidak bisa maksimal mengikuti UN.

Ibarat atlet sepak bola kelas dunia sekalipun, belum tentu bisa bermain bola di lapangan dengan baik setiap pertandingan. Pasti ada penampilan permainan yang buruk.
Di lain sisi, pemerintah juga terkesan belum siap dengan formula baru pelaksanaan Ujian Nasional yang lebih adil. Karena, pelaksanaan UN dengan formula lama tidak adil untuk siswa. Sebab, masih banyak kondisi sekolah di berbagai wilayah Indonesia tidak sama, bahkan banyak sekolah yang masih masuk dalam kategori standar pelayanan minimal.
Toh, jika pelaksanaan UN dilaksanakan, pihak sekolah hanya bisa memberikan instruksi dan arahan kepada siswanya agar giat belajar. Sebaliknya, para guru itu sendiri kurang tanggap dan cepat untuk meningkatkan kapasitas diri dengan kemampuan dan keahlian teknik mengajar yang baik kepada siswa.
Belum lagi permasalahan lama, yakni infrastruktur dan fasilitas pendukung pendidikan di sekolah yang minim.  Banyak bangunan dan ruang sekolah yang rusak. Apalagi masih belum lagi banyak guru honorer yang belum diangkat. Syarat yang tak realistis dan diterapkan bagi para pendidik ini. Makin membuat sistem pendidikan carut marut.
Pemerintah kita perlu diingatkan kembali. Inti dan jantung dari sebuah sistem pendidikan, ada pada berbagai fasilitas dan perlengkapan sekolah yang memadai. Bukan pada gedung departemen atau dinas yang megah.
Ini menunjukkan, masih menjadi rentetan permasalahan di sektor pendidikan. Dilihat sebagai sesuatu yang harus ditingkatkan, dan menjadi prioritas bagi sebuah pembangunan suatu bangsa.
Ini tentu sesuatu yang ironi. Bagaimana generasi sebuah bangsa bisa maju, kalau sarana pendidikannya tidak layak dan rusak. Terlebih, sebuah dinas atau institusi pendidikan yang menjadi institusi bagi para generasi penerus bangsa, tidak bisa mendapatkan sarana belajar yang layak.
Pertanyaan kita, apakah pemerintah kita masih berani mengklaim, keberhasilan UN menjadi keberhasilan dunia pendidikan?

Halaman 11 dari 162