Ditulis oleh Hentakun    Sabtu, 6 Februari 2010    PDF Cetak E-mail
Rumah Betang Sungai Sedik, Identitas Budaya yang Hampir Hilang?

Satu persatu ibu-ibu keluar menggunakan pakaian adat Dayak Iban untuk menari diatas hamparan tikar, tak terkecuali para Jurnalis.

Tabuh gendang malam itu membuat suasana hangat, tidak ada lagi sekat antara para pencari berita dan masyarakat Rumah Betang Sungai Sedik Kecamatan Batang Lupar, Kapuas Hulu. Semua menyatu dalam tegukan demi tegukan tuak aren dari jirigen 40 liter, serta gemulai jemari perempuan Dayak menari Ngajat.

Tuak tradisional produksi Rumah Betang Sungai Sedik itu menjadi salah satu kebanggaan karena bisa menopang kebutuhan hidup masyarakat. Di tengah himpitan jaman yang terus menggerus, beberapa tradisi yang bisa dipertahankan. Sebut saja tradisi menenun, membuat tuak dari aren dan tarian ‘Ngajat’, serta gawai pesta panen yang dilaksanakan setiap bulan Mei-Juni.

Melahirkan pejabat

Berdirinya Rumah Betang Sungai Sedik tahun 1987 atas prakarsa para tetua adat dan warga Dayak Iban. Puluhan tahun sebelumnya mereka menetap di dua rumah betang, namun kondisi rumah betang yang terlalu tua dan tak lagi layak huni, komunitas Dayak Iban ini terpaksa membangun satu unit rumah betang di Dusun Sungai Sedik.

Kerangka dasar rumah betang yang memiliki panjang 86 x 30 meter itu dibangun menggunakan satu pohon tekam raksasa. Pohon raksasa tersebut dibelah mejadi tiga bagian agar memudahkan membawanya dari hutan. Sisanya seperti lantai menggunakan kayu merawan dan keladan yang juga diambil dari hutan serupa.

Menurut Kepala Desa Sungai Abau, Agustinus (34) yang ditemui, Selasa (2/2), diameter kayu tekam sekitar tiga meter. “Kalau kayunya dibaringkan orang berdiri di ujungnya tak kelihatan,” ujar dia.

Agustinus adalah salah satu dari 92 jiwa yang tinggal di rumah betang tersebut. Ia merupakan satu dari 28 kepala keluarga. Awalnya, Rumah Betang Sungai Sedik hanya memiliki tujuh pintu, belakangan, seiring bertambahnya jumlah penghuni, betang diperpanjang menjadi 14 pintu. Di Kecamatan Lanjak, hanya Rumah Betang Sungai Sedik yang dijadikan percontohan, karena kondisi bangunan utama rumah masih alami seperti pertama kali dibangun dan warganya sangat menghormati pendidikan.

Setiap warganya diharuskan melanjutkan pendidikan hingga ke perguruan tinggi. Sehingga banyak penghuni Rumah Betang Sungai Sedik sukses dengan usaha dan kemauan mereka untuk melanjutkan pendidikan.

Salah satunya, Obaja, pejabat struktural di Kabupaten Bengkayang atau Jang Rangga yang menjadi reporter RRI Pontianak. Banyak juga yang menjadi, guru, bidan. “Kita memang wajibkan warga kita untuk sekolah. Beberapa warga seperti Pak Obaja menjadi contohnya,” ujar Agustinus.


Sakral

Dayak identik dengan hutan, di Pulau Borneo ini, dimana ada hutan, hampir pasti ada orang Dayak. Salah satunya, Dayak Iban yang tinggal di Betang Sedik sangat menghormati kelestarian alam dan petuah yang diwariskan nenek moyang mereka, terutama dalam pelestarian lingkungan dan hutan.

Tak heran jika hutan yang ditinggali masyarakat Dayak selalu lestari dan ekosistemnya seimbang, karena tidak pernah diganggu gugat. “Dulu, Bupati Japari mengingatkan agar warga tak menebang hutan karena akan merusak aliran air. Tetua kami juga menyuruh untuk merawat hutan agar kayunya dapat diwariskan kepada anak cucu,” kata Agustinus.

Umumnya di masyarakat Dayak, hukum adat berlaku bagi warga yang merusak hutan. “Kayu di hutan boleh ditebang asal digunakan untuk pembangunan rumah. Kayu ditebang dengan persetujuan tetua adat termasuk sekretaris desa,” jelas dia.

Sanksi yang diberikan berupa denda adat yakni membayar sejumlah babi, ayam dan uang karena telah mengacau keseimbangan ekosistem.

Demikian dengan aturan yang diberlakukan sesama penghuni betang. Jika terjadi cekcok atau permasalah antara warga betang, maka telah dibuat seperangkat alat pengadilan. Warga telah memilih tiga orang pimpinan adat yang disebut patih. Patih inilah yang diberikan wewenang untuk menyelesaikan permasalah yang ada diantara warga betang. Biasanya permasalahan diselesaikan dengan musyawarah mufakat.

Waktu menunjukan pukul 01.00, Yudi Saputra yang menjadi tour leader para Jurnalis dalam bahasa Iban memberitahu kepada seluruh penghuni rumah Betang tak terkecuali para jurnalis, yang akan melanjutkan perjalanan kembali ke Camp Bukit Tekenang Taman Nasional Danau Sentarum, tabuh gendang tak lagi berbunyi, gong tak lagi menggema pagi itu, namun semangat untuk menjaga kelestarian tradisi agung seakan tergambar jelas di setiap raut mimpi penghuni Betang Sungai Sedik.