You are here

Refleksi Kepemimpinan Cornelis-Christiandy (3)

Wilayah perbatasan menjadi beranda negara merupakan impian seluruh masyarakat Kalbar. Cornelis, dalam periode kepemimpinannya selain membangun daerah pantai, juga membangun daerah perbatasan, dan menata kembali batas provinsi dan kabupaten/kota se-Kalbar.

Wilayah perbatasan menjadi beranda negara merupakan impian seluruh masyarakat Kalbar. Cornelis, dalam periode kepemimpinannya selain membangun daerah pantai, juga membangun daerah perbatasan, dan menata kembali batas provinsi dan kabupaten/kota se-Kalbar.

Tidak hanya itu, juga batas laut dan udara, sebagai symbol negara yang berdaulat.

Dalam pidato Gubernur di depan Kasad George Toisutta, di Ball Room Hotel Kapuas Palace, Sabtu, (29/1), mendukung sepenuhnya pembangunan Komando Daerah Militer (Kodam) di Kalbar sesuai kewenangan pemerintah provinsi, sebagai implementasi dari upaya mempertahankan ‘harga diri bangsa Indonesia’ dimata bangsa lain.

Kalbar yang langsung berbatasan dengan Malaysia, sampai saat ini belum dibangun optimal, infrastruktur belum layak, sepanjang 100 kilometer perbatasan masih merupakan hutan raksasa, ditambah lagi pengamanan yang minim. Sepanjang 100 kilometer, menurut Panglima Komando Daerah Militer VI Tanjungpura, Tono Suratman, TNI AD hanya memiliki 31 pos penjagaan perbatasan, sehingga peluang negara lain mengambil hasil alam Kalbar sangat besar.

Fakta yang masih terjadi menurut Cornelis, masih adanya ‘pencaplokan’ terhadap kedaulatan negara di perbatasan, seperti masih bebasnya signal televisi negara tetangga, siaran radio dan signal selular, sehingga yang terjadi masyarakat perbatasan lebih menikmati siaran negara lain, dibandingkan siaran televisi dan radio di negara sendiri, termasuk jaringan komunikasinya.


Isu lingkungan

Tahun 2009, Cornelis mengungkapkan dirinya intens dengan permasalahan lingkungan di Kalbar, terkait tuntutan Eropa terhadap peran Kalimantan dalam mengelola hutan, namun Cornelis seperti berbicara di konfrensi perubahan iklim di Kopenhagen, mendesak, agar kehidupan masyarakat di Kalimantan juga diperhatikan oleh masyarakat dunia.

Karena disatu sisi masyarakat diminta menjaga hutan, namun disatu sisi masyarakat pada realitas hidup perlu makan. Sehingga Cornelis minta negara-negara Eropa untuk memikirkan apa kompensasi untuk negara berkembang menjaga hutan dan masyarakat tetap bisa hidup.

Selain itu juga Cornelis dalam program one man one tree menghimbau masyarakat untuk menanam pohon apapun yang bermanfaat bagi masyarakat, dan untuk mengurangi emisi gas Carbon, sebagai salah satu penyebab pemanasan global.


Visit Kalbar sekarang

Harus diakui, visit kalbar 2010 tidak sedikit menuai kritikan, karena dari segi infrastruktur dinilai belum siap.

Namun, Cornelis mempunyai pemikiran lain, bahwa kalau tidak sekarang kapan lagi, kalau menunggu siap, visit Kalbar tidak akan pernah perwujud.

Sehingga menurut Cornelis, membangun infrastruktur pendukung tetap dilaksanakan seiring berjalannya visit Kalbar 2010. Mengingat potensi wisata Kalbar tidak kalah menariknya dengan daerah lain, di Indonesia.

Cornelis menambahkan, untuk mendukung visit Kalbar 2010 masyarakat Kalbar yang menentukan semuanya, “Jangan turus ketinggalan tas dicuri, turis yang berkunjung dirampok,” kata Cornelis.


Bidang pendidikan

Pembenahan bidang pendidikan menjadi modal dasar pembangunan sumber daya manusia Kalbar masih terus dilakukan. Cornelis mendorong agar setiap sekolah berkomitmen membangun mutu pendidikan. Kemajuan tampak dalam beberapa prestasi yang ditoreh siswa Kalbar baik tingkat nasional maupun internasional.(habis)