Perayaan Imlek dan Cap Go Meh 2010 telah usai. Kisah dan kenangan masih terang benderang. Banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran, terutama mengisi momentum setelah festival sukses digelar serta disaksikan puluhan ribu pasang mata warga lokal, nasional dan internasional.
Perayaan Imlek dan Cap Go Meh 2010 telah usai. Kisah dan kenangan masih terang benderang. Banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran, terutama mengisi momentum setelah festival sukses digelar serta disaksikan puluhan ribu pasang mata warga lokal, nasional dan internasional.
Secara kolosal semua ceritera terukir dari Kota Singkawang. Sejumlah rekor MURI mereka pecahkan. Namun Kota Pontianak secara cerdas juga membuat langkah canggih. Yakni memberikan alternatif bagi turis domestik atau manca agar dapat turut menikmati apa yang tersaji di Kota Singkawang. Di mana pada gilirannya tidak hanya di Kota Amoy yang semua hotel terisi penuh, tetapi juga di Kota Pontianak. Tidak hanya Pasar Hongkong yang ketiban rizki nomplop, juga pusat jajanan kuliner Kota Pontianak yang difokuskan di Jalan Diponegoro.
“Belum pernah saya menyaksikan Jalan Diponegoro seramai ini. Inilah mimpi saya sejak dahulu. Minimal ada suatu momen yang bisa terjadi seperti ini,” ungkap Bos Resto Beringin, H Martias.
Martias sejak dulu memimpikan Kota Pontianak menjadi salah satu destinasi wisata yang andal di luar Kota Singkawang, Sambas, Mempawah. “Diponegoro tepat dikelola sebagai Pasar Festival,” ujar Martias yang juga aktor intelektual di Masyarakat Pariwisata Indonesia Kalbar.
“Semua stand laris manis,” timpal Azdi, anggota panitia. “Jam sembilan malam makanan dan minuman sudah kehabisan stok,” timpalnya. Bahkan, lanjut Bos A-Café ini, rumah makan Citarasa tidak sempat mengistirahatkan pekerja dapurnya. Mereka terus bekerja demi melayani banyaknya pengunjung. “Tak ayal lagi, tukang masak pun disuapkan majikannya akibat tak sempat menyuap sendiri,” tuturnya terbahak-bahak. “Festival perdana ini sukses besar.”
Sejak Festival Cap Go Meh dibuka pada 24 Februari banyak suguhan disajikan. Pembukaan ditandai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya…” Hening dan khidmat dilantunkan ribuan orang yang hadir bersama Gubernur, Walikota dan Menteri Pariwisata.
Suasana kian nasionalis karena tarian Nusantara. Gadis-gadis multietnis dengan ceria membawakan kostum Tionghoa, Dayak, Melayu. Lagu-lagu pun menyusul. Mulai dari lagu daerah hingga lagu pop Mandarin serta Barat.
Pengunjung yang hadir puluhan ribu saban sore hingga malam hari. Mereka tentu saja multietnis, multiagama. Tidak hanya satu kelompok lapisan sosial masyarakat, tetapi menyeluruh. Tua-muda, laki-perempuan, hingga anak-anak.
Jika kita berbicara soal tahun kunjungan ke Kalbar 2010, Festival Cap Go Meh yang diselenggarakan di Kota Pontianak telah tercatat dengan tinta emas. “Semula terseok-seok, tapi akhirnya sukses besar,” ungkap H Untung Dwiyani, pengelola Borneo Tribune Organizer. “Jika persiapannya lebih matang, hasilnya akan jauh lebih sempurna lagi. Jika ada kekurangan di sana-sini hal itu sangat wajar karena tiada gading yang tak retak,” ungkapnya.
Kepala Dinas Pariwisata Kalbar, Kamaruzzaman saat berada di atas pentas untuk acara Koko-Mei-Mei serta Pluralisme Award berbisik, “Masya Allah, ramai ya…”.
Saya sendiri terkesima dengan melimpahnya massa, terlebih mereka menikmati serta kukuh menjaga keamanan dan ketertiban. Kendati ada isu yang tak dapat dipertanggungjawabkan, mereka tetap tampil ekspresif dan impresif.
Setelah Festival Cap Go Meh sukses dihelat di Jalan Diponegoro, mimpi telah menjadi kenyataan. Kini Visit Kalbar 2010 mempunyai momentum emas. Bahwa banyak potensi wisata yang bisa dikemas sedemikian rupa sehingga menarik wisatawan daerah atau Nusantara selama kita mau rukun, kompak dan bersatu.
Tak urung, kawasan Diponegoro juga dapat dijadikan Pasar Festival yang bisa dikelola laksana Orchard Street di Singapura. “Atau seperti Pasadena di Eropa,” usul Kamaruzzaman.
Sekarang tinggal siapa yang lebih dahulu menangkap peluang. Apakah Pemkot atau Pemprov? Atau ada pihak swasta yang berani mengelola?
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
