You are here

Modus Operandi

 

Hasil penelurusan di lapangan, malam itu rata- rata dari mereka mengaku sudah lima hari bermalam di pantai. Agar bisa bertahan hidup mereka membekali diri persediaan makanan yang cukup. Seperti beras, mie instan, gula, kopi dan lainnya. Layaknya kegiatan kemping.

Masuk lebih ke dalam di rumah penginapan terlihat tumpukan ribuan butir telur penyu dalam sebuah kamar. Sebelum telur- telur itu dibawa ke Desa Sebubus, 20 persen dari jumlah telur itu disisihkan ke tempat penetasan sekitar 40 meter dari pondok. Sisanya baru dibagi rata dua kelompok.
Hari-hari biasa, pondok itu dijaga Fredy (34) warga Sebubus merupakan orang suruhan Syabrani  ditugaskan menjaga dan memberi pakan tukik selama di penangkaran. Fredy mengaku per harinya dibayar Rp 40-50 ribu dari Syabrani. Ia membeberkan, tidak semua para pemburu mengumpulkan hasil buruannya di tempat penangkaran. Kebanyakan dari mereka sudah lebih dulu menyembunyikan telur buruan di banyak tempat. “Ada yang menaruh telur di jok motor, ada juga sudah lebih dulu dikubur di tempat lain. Baru sisanya dikumpulkan di tempat penangkaran,” kata Fredy.
Selama ditugaskan Syabrani menjaga penangkaran telur, Fredy mengaku hampir setiap malam ada puluhan anak tukik mati dimakan predator, seperti anjing, biawak, dan kucing hutan. Predator itu bisa masuk dengan mudah ke areal penangkaran lantaran di sekelilingnya hanya dibangun pagar kayu setinggi tidak sampai satu meter.
“Inginnya membangun pagar yang lebih tinggi dan permanen. Biar aman dari buruan predator. Cuma kami belum punya dana untuk membangunnya,” kata Fredy. 
Predator lain yang paling susah dicegah adalah manusia. Pernah penangkaran yang dijaga Fredy dibobol maling pada saat sedang tertidur lelap. “ Kondisi sarang sudah dalam keadaan terbongkar sebagian. Diperkirakan hampir 3.000 butir telur dijarah. Padahal tinggal menunggu sebulan lagi telur itu bisa menetaskan tukik,” kata Fredy.
Bila nasib tidak beruntung para pemburu tidak segan- segan memilih jalan pintas membunuh induk penyu bila ditemukan di pantai dengan cara membelah kerapas menjadi dua bagian. Cara sadis seperti itu terpaksa dilakukan lantaran pemburu tidak sabar menunggu penyu bertelur memakan waktu lama. Sepanjang 2010, Fredy sudah menemukan empat ekor bangkai penyu hijau mati dengan kerapas terbelah.
Sejumlah sumber dihimpun. Sengitnya perburuan telur penyu di pantai itu berawal dari kebijakan Mantan Bupati Sambas, Burhanuddin A. Rasyid menetapkan pengelolaan telur penyu menunjuk pihak ketiga membangun koperasi penampungan telur penyu. Koperasi itu milik Dedi S Helmi, mantan anggota DPRD Sambas priode 2004-2009.
Lantaran tidak puas pendapatan asli daerah dari perdagangan telur penyu hanya mencapai Rp 70 juta per tahun. Tahun 2005 izin konsesi tersebut dicabut dan menetapkan Taman Wisata Alam Tanjung Kemuning dan Belimbing sebagai situs konservasi penyu dan pengelolanya BKSDA.
Parahnya, institusi perpanjangan tangan Kementerian Kehutanan itu tidak punya dana merekrut tenaga terampil mengawasi pupulasi penyu yang bertelur setiap tahunnya. Bayangkan saja, sepanjang 63 kilometer areal induk penyu bertelur hanya menempatkan satu orang tenaga swadaya binaan BKSDA. Tugasnya, selain menjaga penangkaran telur penyu yang dibangun BKSDA juga bertugas mengamankan sarang telur penyu dari aksi penjarahan warga.