Senin, 11 Juli 2011 pukul 02.30 “start to leave house” di Purnama. Saya melintasi Sungai Kapuas yang eksotik karena temaram lampu di rumah-rumah bibir sungai. Air sedang kondah sehingga kapal-kapal yang sandar maupun yang melaju menuju daerah dagang menambah dinamika Kapuas sebagai urat nadi Bumi Khatulistiwa.
Lampu jembatan tol Kapuas berwarna keemasan. Sangat terang untuk menyinari pengguna jalan. Apalagi dinihari begini, sepi. Hanya saya yang berjalan dengan empat roda LGX metalik alias perak.
Setiap melintasi Jembatan Kapuas saya selalu ingat dengan siapa yang meresmikan jembatan ini. Dialah Presiden Soeharto. Momentum peresmiannya pada tahun 1984 berkenaan dengan MTQ ke-14 di Stadion Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie.
Suasana jalanan Kota Pontianak sebagai ibukota provinsi mantap tanpa lubang. Apalagi di setiap ruas jalan penuh lampu penerang. Seperti di Jalan Gajahmada wilayah Pecinan, maupun Tanjungpura serta Veteran, Ahmad Yani semua dipayungi lampu warna keemasan. Sebagai warga kota saya bangga. Dan akan lebih bangga lagi jika warga kota bisa merawat apa yang sudah ada sehingga siapapun pemimpin kota ini bisa menambah bagus fasilitas publik. Misalnya menambah banyak, menambah jangkauan, menambah lebar jalan, menambah tol, fasum, fasos. Bukannya merusak. Memecah lampu taman. Mencorat-coret marka jalan, rambu-rambu lalu lintas.
Singapore melintas dalam bayangan. Kota negara kecil yang hanya 20 km persegi ini hebat menata kotanya. Langka corat-coret dan sampah. CCTV di mana-mana. Jika ada sampah, cepat ketahuan siapa pelakunya, apalagi pencuri. Cepat sekali mereka mengendusnya dengan teknologi. Oleh karena itu mustahil yang mustahal jika ada WNI jadi tersangka dan masuk Singapore jika kagak ketahuan. CCTV pasti merekamnya. Pasti. Kecuali ada sindikat, itu lain perkara. Perihal kamaun penegak hukum Indonesia mencari para tersangka dengan sungguh-sungguh itu perkara lain lagi.
Semoga Kota Pontianak bisa tumbuh dalam kedamaian seperti subuh hari ini, 11 Juli 2011. Jalan bersih dan bercahaya keemasan. Dan semoga kemacetan di pinggir jalan Pasar Flamboyan step by step bisa diatasi Pemkot agar tidak berurat-berakar seperti Tanah Abang, Pasar Senen, Jakarta. Jangan tiru Jakarta yang macet. Contohlah Singapore, Kuala Lumpur, bahkan tetangganya Kalbar, Kuching, Sarawak, Malaysia Timur. Bertandang ke Kuching serasa ke Australia. Serasa ke Eropa. Apa tak mau Pontianak menjadi sister city Kuching? Sister city Singapore? Sister city Bangkok?
Melintasi anak sungai Kapuas, tol Landak terasa tingkat kepadatan penduduk sungai Landak ketimbang Kapuas lebih minim. Besar potensi bisa dibangun di sini. Potensi Kapuas dan Landak bagaikan kekuatan magis. Saya dapat merasakan, pastilah isi kepala orang Arab maupun Arab sama sama sama. Bahwa zamrut khatulistiwa ini benar-benar sepotong surga yang dilemparkan Allah ke muka bumi.
Lihatlah Jalan Teuku Umar banjir durian. Siantan banjir lidah buaya dan sayur mayur. Belum lagi cita rasa bakso, mie tiau, kue tiau, tempoyak, asam pedas, cah pakis, sambal aji dollah. Sssst sampai telior-lior menuliskannye.
Semoga lahir tangan-tangan terampil dan mau bersatu membangun zamrut khatulistiwa ini. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Gotong royong sesuai falsafah Bangsa Indonesia. Bersatunkita tegus, bercerai kita runtuh. Rawe rawe rantas, malang-malang buntung. Hulubis kuntul baris. Duduk sama rendah. Berdiri sama tinggi. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.
Yakin usaha sampai. Apapun bisa diraih. Persis seperti sapu. Bersatu sulit dipatahkan. Bercerai, guampaaaang...
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
