You are here

Catatan Kritis untuk Kebersihan

Tidak melulu pagelaran Festival Cap Go Meh meraih sukses besar. Ada satu titik kritis yang gagal. Kegagalan ini bukan semata-mata kelemahan panitia, tetapi juga sikap hidup masyarakat Kota Pontianak pada khususnya dan Kalbar pada umumnya yang berdamai dengan sampah jika tidak mau dikatakan bersahabat dengannya.

Tidak melulu pagelaran Festival Cap Go Meh meraih sukses besar. Ada satu titik kritis yang gagal. Kegagalan ini bukan semata-mata kelemahan panitia, tetapi juga sikap hidup masyarakat Kota Pontianak pada khususnya dan Kalbar pada umumnya yang berdamai dengan sampah jika tidak mau dikatakan bersahabat dengannya.

Perjumpaan dengan sampah mudah ditemukan di mana-mana di sepanjang Jalan Diponegoro tempat dipusatkannya Festival Cap Go Meh 24-28 Februari. Sampah yang ditemui itu pun beraneka rupa, mulai dari organik sampai anorganik—mulai dari kantong plastik sampai dengan kulit buah serta bangkai minuman kaleng.

Sampah yang bergeletakan di badan jalan itu dapat diduga-duga berasal dari tangan siapa. Jika bentuknya tisu, pada umumnya jatuh dari tangan perempuan. Sebab laki-laki jarang kemana-mana menggunakan tisu.

Jika sampah itu materinya plastik chicki, snack, bungkus permen dapat diduga jatuh dari tangan anak-anak. Artinya pula si anak-anak ini sejak kecil kurang dididik oleh orang tua maupun guru-guru di sekolahnya—termasuk kita-kita—untuk tidak membuang sampah sembarangan. Pada gilirannya kesalahan juga jatuh kepada pemerintah yang kurang menyiapkan tong-tong sampah. Terlebih pada perayaan sekelas festival di mana jumlah pengunjungnya mencapai ratusan ribu jiwa.

Bayangkan saja jika ruas jalan Diponegoro, Agus Salim, Sisingamangaraja, dan Antasari tumplek-blek manusia. Tak ayal lagi sampah-sampah pun berguguran menjadi kembang di atas langgam hitam jalan aspal. Keberadaanya menjadi kontras sebagai kembang-kembang artifisial terutama ketika ribuan manusia sudah meninggalkan ajang arena. Tinggallah pemandangan padang kembang yang tak ubahnya lapangan hari raya sepeninggal umat muslim Salat Iedul Fitri ataupun Iedul Adha. Hanya saja seusai Iedul Fitri dan Iedul Adha sudah menjadi langganan pemulung untuk menggelontor sampah khususnya lembar-lembar koran masuk ke gerobaknya, sedangkan di arena festival kemarin semuanya praktis menjadi tanggung beban dinas kebersihan.

Alangkah eloknya jika setiap tangan sudah mawas diri sejak dini dengan sampah masing-masing. Untuk tisu dan bungkus permen tidak ada salahnya dikantongin dulu untuk kemudian setelah pulang dapat dibuang pada tong-tong sampah keluarga masing-masing sehingga tidak mewarnai lingkungan menjadi kotor dan jorok. Begitupula kaleng minuman fastfood sebaiknya dipegang dulu sampai ditemukan bak sampah untuk kemudian dibuang. Pemandangan seperti ini sudah lazim di negara-negara maju, dan tidak ada salahnya kita contoh jika kita ingin negara ini maju.

Antisipasi dini perlu kita budayakan. Bukankah langkah antisipatif jauh lebih berguna ketimbang kuratif? Bukankah mencegah jauh lebih efektif ketimbang mengobati?

Pada skala yang lebih besar kekurangsadaran akan arti pentingnya menjaga kebersihan adalah mudahnya kota terendam banjir ketika air pasang ditambah hujan berhari-hari lamanya. Sampah yang berada di mana-mana akan mudah terbawa air dan menyumbat selokan, parit dan sungai. Air pun tergenang dengan berbagai bibit penyakit. Bibit penyakit itu akibat bebusukan sampah organik yang selalu mengundang lalat-lalat menghinggapinya. Lalat-lalat ini kemudian akan terbang ke kantin-kantin, resto-resto, pasar-pasar dengan kaki serta mulutnya membawa bibit penyakit. Tak urung kita, anak-cucu kita akan mudah terserang berbagai penyakit. Tidak heran jika di era modern ini semakin aneh bin ajaib pula jenis-jenis penyakit.

Belum lagi akibat air tergenang ibarat undangan gratis bagi nyamuk untuk bertelur, berjentik dan bersarang. Tak ayal saban tahun Kota Pontianak menjadi sarang dari penyakit Demam Berdarah. DBD pun menyerang tak kenal pangkat dan jabatan. Mulai dari anak petani, nelayan, pedagang, dokter, polisi, tentara. Tak sedikit kasus DBD kemudian merenggut korban jiwa.

Pariwisata seperti maksud pagelaran yakni mengisi Visit Kalbar Year 2010 sebenarnya tidak melulu harus mahal-mahal, canggih-canggih, spektakuler dan yang high-high. Tidak. Dengan menjaga kebersihan saja sudah menjadi modal bagi daya pikat wisata. Sebab secanggih dan sespektakuler apapun suatu tempat atau wahana, jika lokasinya kotor, jorok bin dekil tetap saja tidak menarik untuk didatangi, Kenapa? Sebab sampah merupakan bank berbagai jenis kuman-penyakit.

Sebaliknya lihatlah Eropa dan Amerika. Kalau terlalu jauh maka tengoklah Kuching, Kuala Lumpur dan Singapura. Masing-masing merupakan jiran tetangga kita. Lokasi mereka tak ubahnya daerah kita ada pasar rakyat, anak-anak sungai, dan beriklim tropis. Tetapi daya pikat utamanya bukanlah gedung tinggi pencakar langit melainkan kebersihannya. Lokasi lokasi mereka semua bersih dari aneka sampah, maka lokasinya tampil asri bak bidadari cantik. Berdatanganlah ratusan ribu bahkan jutaan turis asing termasuk Indonesia.

Kok mereka bisa, sedangkan kita tidak? Padahal kita sama-sama berambut hitam, kulit sawo matang, keluarga besar Asia. “Menjadi PR kita untuk menyerukan semua warga untuk semangat menjaga kebersihan di even-even mendatang,” bisik Kepala Dinas Pariwisata Kalbar ketika berjalan kaki bersama dari panggung Festival Cap Go Meh menuju Hotel Santika. (bersambung)