Antusiasme para mahasiswa dan masyarakat yang tinggal di kawasan pendidikan Jatinangor, Kabupaten Sumedang terhadap buku bacaan masih kurang, terlihat dari sepinya pengunjung pameran bertajuk "Survive."
Rendahnya antusiasme pengunjung diakui Ketua Pelaksanaan pameran buku "Survie" Bayu Kurnia dari Himpunan Mahasiswa Jurusan Informasi dan Perpustakaan Universitas Padjadjaran (Unpad) ketika ditemui, Senin.
"Mungkin sepi, karena publikasi acara ini baru disebar H-4 acara", ujar Bayu Kurnia (21), Ketua Pelaksana Acara "Survive".
Kendala publikasi nampaknya juga dirasakan oleh beberapa mahasiswa, salah satunya Audya (20), salah seorang mahasiswa Universitas Padjadjaran semester 4.
Ia mengaku sama sekali tidak mengetahui acara tersebut, meskipun diadakan di kampusnya.
"Saya kurang tertarik", katanya singkat Hal serupa juga dikatakan Dwi (21), mahasiswa semester 6 Institut Pendidikan Dalam Negeri.
Dwi mengaku sama sekali tidak melihat ada acara yang cukup menarik minatnya di Jatinangor.
Nampaknya, bukan hanya faktor ketertarikan saja yang dapat mempengaruhi antusiasme warga Jatinangor terhadap acara pameran buku.
Meski membaca kerap dijadikan hobi, nampaknya uang memang menjadi salah satu kendala terbesar bagi warga Jatinangor untuk tertarik kepada buku bacaan.
Kusnadi (28) misalnya. Warga asli Jatinangor yang berprofesi sebagai distributor air mineral ini mengaku sangat suka membaca, namun uang menjadi kendala baginya untuk sekedar datang mengunjungi Pameran Buku Jatinangor.
"Buat apa ke sana kalau tidak punya uang", ujarnya.
Hal serupa juga dikatakan Yuli (28), seorang ibu rumah tangga di jalan Manunggal, Jatinangor.
Baginya, acara pameran buku hanya bisa dikunjungi oleh para mahasiswa saja, bukan masyarakat umum.
"Mahasiswa kan masih belajar, butuh buku. Kalau saya buat apa lagi", katanya sambil tertawa.
Tapi rupanya pernyataan Yuli tak berlaku bagi Chesara (20) salah seorang mahasiswa di salah satu perguruan Tinggi di Jatinangor.
"Saya tidak suka membaca. Lagipula, saya tidak punya duit dan acaranya tidak menarik hati saya", ungkapnya.
Meski demikian, Bayu sebagai Ketua Pelaksana acara "Survive" tidak berputus asa.
Dikatakannya, selain menyajikan buku-buku terbaik milik 10 penerbit buku ternama di Indonesia, pihak penyelenggara akan segera mengadakan acara bedah buku "9 Matahari" yang diisi langsung oleh pengarangnya, Adenita pada Rabu, 18 Februari mendatang.
Selain itu, acara ini juga akan dimeriahkan oleh bedah buku yang kedua berjudul "Drunken Mama" bersama pengarangnya, Pidi Baiq pada Kamis, 19 Februari 2009.
"Semoga esok hari tidak sepi seperti sekarang", ujar Rahmi (19), penjaga stand buku.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
