You are here

Pemilukada Ajang Memilih Figur Terbaik

Ketua LSM NCW Kabupaten Bengkayang, Irawan, mengatakan Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) merupakan bagian terpenting untuk menempatkan figur terbaik yang dimiliki daerah. Awal tahun 2012 mendatang, warga Kalimantan Barat juga berkesempatan untuk menentukan siapa figur terbaik untuk menjadi pemimpin daerah.

Di tengah hiruk-pikuknya kondisi politik dan kehidupan masyarakat Kalbar, apakah sikap oportunis terus dibudayakan dan akankah ada kebangkitan yang memicu setiap orang untuk lebih cerdas dan jujur dalam besikap. Perspektif inilah yang harus menjadi perhatian. Berangkat dari pemikiran itu, sudah seharusnya semua pihak dapat memperhatikan tujuan diperlukannya seorang pemimpin yang dapat menakhodai pemerintahan di negeri ini. “Untuk sampai ke arah itu, maka Pemilukada merupakan arena pengambilan sikap bagi setiap individu untuk menentukan dan memilih figur terbaik," kata Irawan.

Irawan menjelaskan, apabila mayoritas orang salah menentukan pilihan, maka kesalahan itu akan berdampak pada kehidupan dan ekonomi masyarakat selama lima tahun ke depan, bahkan lebih. Namun, apabila pilihan itu benar, peluang untuk mendapatkan sebuah sinar kehidupan lebih terbuka, dengan catatan figur yang dipilih tetap konsisten dengan segala kejujurannya, dan mampu memberikan yang terbaik bagi rakyat dalam kehidupan nyata dan bukan sebatas retorika.

"Lantas siapakah figur yang harus dipilih agar produk pilihan tidak hanya sebatas fatamorgana yang tampil sebagai bayangan semu," jelas dia.

Menurutnya, setidaknya ada tiga hal penting yang dinilai dan dapat dijadikan sebagai acuan untuk dipertimbangkan. pertama, para kandidat Pemilukada yang dipilih harus dikenal luas di tengah masyarakat dengan harapan mayoritas rekam jejaknya sudah diketahui, baik dari segi sikap, kemampuan mengambil kebijakan, mampu berlaku adil, tidak pilih kasih dan tidak korup. Kedua, memiliki latar belakang yang jelas, memiliki perjalanan karir hidup berbanding lurus melalui proses menanam hingga memanen dan tidak oportunis. Ketiga, sikap pribadinya (kepribadian) jelas atau tidak munafik, tidak suka cerita bohong, jujur dalam berkarya dan memiliki komitmen selama menjalani karir hidup,” demikian dikatakan Irawan kepada sejumlah wartwan usai Solat Jumat.

"Setidaknya, tiga kepribadian itu harus tecermin dalam kehidupan sehari-hari dari setiap pribadi kandidat yang akan dipilih. Dengan kondisi itu, maka dalam menentukan pilihan, terpulang kepada pribadi pemilih, apakah akan memilih dengan sikap yang cerdas atau hanya memanfaatkan momen sesaat, dikala adanya berbagai tawaran genit dari para kandidat," ujar Irawan.

Tambah dia, tidak mustahil di antara kandidat akan mengobral berbagai keindahan dan tawaran surga bagi siapa saja, baik di dalam pelaksanaan kampanye secara terang-terangan maupun kampanye secara sembunyi-sembunyi.

“Di tengah kondisi seperti itulah, diperlukan pemilih cerdas yang dapat membedakan mana yang benar dan mana yang harus dipilih. Tidak jarang di antara masyarakat pemilih, pada awalnya begitu bersemangat mendukung salah satu kandidat dan berhasil mengantarkan jagoan yang diusung menduduki singgasana yang dituju,” terang putra Bengkayang ini.