You are here

Masyakat Goa-Rantau Ingin Pindah ke Singkawang

Pergantian Kepala Daerah Kabupaten Bengkayang dari Jacobus Luna kepada Suryadman Gidot pada tahun 2010 belum berdampak positif terhadap mayarakarat Desa Goa Boma dan Desa Rantau Kecamatan Monterado. Warga kedua desa bertetanggai itu merasa dipinggirkan dalam pembangunan segala bidang.

Ketetinggalan pembangunan infrastruktur yang sangat dirasakan. Sebagai contoh, jembatan Rantau yang saat telah mengalami kerusakan sejak beberapa tahun lalu tidak kunjung mendapatkan perhatian dan bantuan dari Pemerintah Bengkayang. Padahal, jembatan itu sangat vital untuk memperlancar perekonomian warga.

"Jembatan itu telah bertahun rusak dan tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah. Pengajuan pembangunan telah disampaikan tapi sampai saat ini tidak ada tindakan nyata," kata Robun, salah seorang warga Rantau saat ditemui disela sela kesibukannya bersama warga lain untuk memperbaiki jembatan.

"Setiap tahun, perbaikan jembatan ini menggunakan swadaya masyarakat," tambahnya.

Jembatan rantai itu memliki panjang kurang lebih delapan meter dengan lebar dua meter atau lebih. Kondisi saat ini jembatan yang awalnya dibangun pemerintah itu mengalami kerusakan, sebagian badan jembatan telah roboh dan mencium tanah dasar pembangunan. Agar jembatan itu dapat berfungsi, warga berinisiati untuk melakukan perbaikan berupa penambahan tiang dan lantai dari kayu bulat.

“Pemda Bengkayang sepertinya memandang kami sebelah mata, lihat saja kondisi transportasi kami cukup parah, kalau terus seperti ini, baiknya kami meminta untuk bergabung dengan Kota Singkawang saja,” ungkapnya dengan nada kesal.

Robin menilaia, perhatian pemerintah terhadap desanya tidak sesuai dengan janji-janji  elit politik daerah. Politikus-politikus itu berjanji manis saat akan dilakukan pemilihan, namun, setelahnya terpilih, janji yang pernah disampaikan diingkari dan bikit sakit hati.

“Mereka berjanji janji hingga mebuat warga mau memilihnya, tapi setelah terpilih mereka lupa dan membiarkan warga tetap menderita," kata Robin.

Pengingkaran janji politik juga dirasakan warga Goa Boma. Bahkan, Kepala Desa daerah terpencil ini mengaku memberikan intruksi kepada warganya untuk tidak menandatangai berita acara kehadiran saat anggota DPRD melakukan reses di daerahnya tersebut.

"Terus terangan, saya melarang warga saya memberikan tanda tangan hadir saat mereka melakukan reses, itu saya lakukan karena mereka hanya berjanji, kemudian dilupakan," jelas Kepala Desa Goa Boma, Barman Asim.

Bentu kekecewaan Asim pada elit politik daerah itu juga sangat mendasar, sebagai bukti, infra struktur jalan menuju Goa Boma tidak kunjung ada perhatian. Pemerintah daerah dan anggota DPRD seakan tutup mata. Mereka kata Asim seakan tutup mata dan hanya mau datang saat pemilihan.

"Mereka datang di sini paling paling saat akan dilakukan Pileg, PIlpres, atau Pilbup, setelah itu mereka tidak datang lagi,' jelas Barman Asim.

Akibat jalan yang rusak tersebut, Barman mengatakan, harga barang barang saat sampai di Goa Boma melonjak. Barang-barang itu mahal dipengaruhi kondisi jalan yang rusak dan susah ditempuh kendaraan roda dua bahkan roda empat. Kondisi jalan akan lebih parah saat turun hujan.

"Ini fakta, silahkan liat sendiri bagaimana kondi jalan kita,” terang kepala desa yang telah menjabat sejak kepemimpinan Bupati Bengkayang, Jacobus Luna.