You are here

Gawai Dayak, DAD Diminta Bikin Terobosan

Sejak berdiri tahun 1999 lalu, Penyelenggaraan Gawai Dayak se-Kabupaten Bengkayang belum pernah diadakan. Masyarakat Dayak di Bengkayang meminta kepada DAD agar even tersebut dapat dijadikan agenda tahunan daerah ini. Salah satu warga yang meminta itu adalah Dosen Akademi Bumi Sebalo, Antonius Runse.
Sejak berdiri tahun 1999 lalu, Penyelenggaraan Gawai Dayak se-Kabupaten Bengkayang belum pernah diadakan. Masyarakat Dayak di Bengkayang meminta kepada DAD agar even tersebut dapat dijadikan agenda tahunan daerah ini. Salah satu warga yang meminta itu adalah Dosen Akademi Bumi Sebalo, Antonius Runse.

“Tentunya DAD harus mampu menggandeng Pemda Bengkayang agar penyelenggaraannya dapat terlaksana dengan baik setiap tahunnya,” kata lajang yang juga sebagai pengurus Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI) Bengkayang.

Dengan diselenggarakannya Gawai Dayak tersebut di Bengkayang dimaksud sebagai upaya pelestarian budaya yang selama ini sedikit demi sedikit mulai terkikis oleh perkembangan zaman, dimana unsur-unsur budaya mulai ditinggalkan oleh generasi muda.

Khusus di Bumi Sebalo, adanya kegiatan/festival budaya yang sudah berjalan beberapa waktu hanya sebatas pada kegiatan naik dango di Kecamatan Samalantan dan Festival Budaya Bumi Sebalo (FBBS), namun keduanya tidak merangkul seluruh masyarakat Dayak yang terdiri dari berbagai sub-sub suku Dayak yang lainnya.

“Dengan terbentuknya kepengurusan DAD Bengkayang yang baru, kita berharap agar penyelenggaraan GD se-Kabupaten dapat menjadi agenda tetap daerah dalam upaya melestarikan khasanah budaya khususnya bagi sub-suku Dayak,” tandasnya.