Berbeda dengan beberapa daerah di Kalbar, seperti Kapuas Hulu, Sekadau, Sanggau, Ketapang yang beberapa hari lalu diterpa banjir, kondisi kemarau justru sedang terjadi di Bengkayang.
Memanfaatkan cuaca panas sejak Sabtu (21/8) lalu, sebagian petani tradisional daerah ini membakar ladang mereka karena kuatir beberapa hari kedepannya akan terjadi hujan terus menerus sehingga ladang tidak dapat dibakar. Akibat adanya pembakaran tersebut, kondisi udara di Bengkayang sebelum diguyur hujan pada Kamis (26/8) sore dipenuhi kabut asap.
Herkulanus Akim, salah seorang petani tradisional asal Desa Belimbing mengatakan ladang miliknya yang akan ditanami padi pada Selasa (24/8) lalu telah dibakar dan sekarang tinggal membersihkan sisa-sisa kayu hasil pembakaran tersebut untuk selanjutnya segera ditanami.
“Jika berpatokan dengan jadwal tanam, sebenarnya pembakaran ladang saat ini termasuk sudah terlambar, tetapi apaboleh buat karena lahan sudah ditebas,” katanya.
Sementara, Dedi, petani asal Sebalo, Kecamatan Bengkayang, mengaku hingga saat ini ladang yang telah ditebasnya belum juga dibakar karena pada saat cuaca panas beberapa hari lalu kondisi ladangnya masing belum terlalu kering sehingga takut tidak hangus.
“Kemarin, masih ditunda karena lahan masih basah setelah diguyur hujan sebelum ini,” ujarnya, Jumat (27/8) di Bengkayang.
Melihat kondisi alam yang tidak menentu saat ini, Dedi tidak dapat memastikan kapan ladang yang telah ditebasnya akan segera dibakar, karena dalam dua hari belakangan ini Bengkayang dan sekitarnya dilanda hujan yang cukup deras.
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
