Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4 st1\:*{behavior:url(#ieooui) } /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin:0in; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-ansi-language:#0400; mso-fareast-language:#0400; mso-bidi-language:#0400;}
Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pontianak Malay Corner melakukan launching buku „Menunggu di Tanah Harapan”. Buku ini merupakan kumpulan tulisan peserta pelatihan Menulis Kisah Perjalanan, pelatihan yang dilaksanakan MC antara Februari- April 2009 lalu.
Judul Buku: Menunggu di Tanah Harapan
Penulis: Yusriadi, dkk
Editor: Yusriadi
Penerbit: STAIN Pontianak Press
Tahun: 2009
Halaman: xiii+454
Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pontianak Malay Corner melakukan launching buku „Menunggu di Tanah Harapan”. Buku ini merupakan kumpulan tulisan peserta pelatihan Menulis Kisah Perjalanan, pelatihan yang dilaksanakan MC antara Februari- April 2009 lalu.
Ada 18 tulisan dalam buku ini. Yusriadi menulis tentang Episode Kehidupan di Kampung Durian (Hal 1). Dedy Ari Asfar, Suatu Senja di Kampung Durian (Hal 35). Irmayani, Kampung Durian, Kampung Harapan (Hal 59). Nindwihapsari, Kampung Durian, Kembalinya Impian yang Tercerabut di ”Tanah Impian” (Hal 85). Martina, Kedamaian di Daerah Pengungsian Kampung Durian (Hal 119). Hizbul Maududi, Gadis Cilik Penoreh Karet (Hal 155). Ambaryani, Malam Panjang di Kampung Durian (Hal 164). Erika Sulistia Maidaningsih, Malam Mingguan di Kampung Durian (Hal 191). Marisa, Dari Sok Tahu, Sampai Jualan Sayur (Hal 203). Ibrahim, Nostalgia (234). Isminarti, Mereka Menunggu di Tanah Harapan (253). Tino Amindani, Potret Pendidikan Eks Pengungsi Konflik Sambas (Hal 269). Ismail Ruslan, Harapan Baru dari Kampung Pengungsi (Hal 294). Patmawati, Hidup ini Penuh Tantangan (Hal 323). Fifin Fenti Farida, ”Sewa-sewa” ke Sukaramai (Hal 352). Rizki Muhardini, Satu Malam di Kampung Durian (Hal 372). Didi Darmadi, Perjalanan Hidup di Bawah Angin (396) dan Juniawati, Membangun Harapan Baru di Kampung Durian (Hal 427).
Haitami dalam sambutannya mengatakan apresiasinya terhadap upaya MC itu.
“Saya bangga,” katanya.
Menurut menulis buku sesungguhnya menjadi amal saleh yang berkepanjangan, sekalipun inspiratornya sudah berkalang tanah, karya amal salehnya akan terus bergulir. “Inilah amal saleh yang berterusan. Mudah-mudahan ini diridhai Allah,“ tambahnya.
Meskipun demikian, Haitami juga mengingatkan bahwa karya yang terus lahir dari kampus STAIN Pontianak tidak lantas membuat civitas bangga.
„Kita belum apa-apa, sekalipun kita bandingkan dengan PT lain, kita teratas.
Jangan cepat puas. Kalau kita bangga sudah buat banyak, kita mati sebelum mati,” ingatnya.
Katanya, banyak orang yang bangga dengan apa yang dicapai STAIN, melalui STAIN Press sekarang ini. Namun baginya, hal itu belum apa-apa. Karena tuntutan akademis, geliat ilmiah di PT berdasarkan idealnya belum tercapai. Karena itu dia mengajak setiap orang harus tetap berusaha meningkatkan karya.
Menanggapi rencana MC menerbitkan buku lanjutan dengan mengadakan kunjungan lapangan ke Sambas untuk melihat kehidupan masyarakat Melayu di sana sekarang ini, Haitami menyarankan agar perspektif yang digunakan tetapkan perspektif Malay Corner.
Haitami juga berpesan agar setiap orang terus menulis.
“Jangan pernah berhenti menulis, lanjutkan. Tidak pernah ada orang yang tiba-tiba menjadi besar, semua harus dimulai dari bawah. Kalau sudah biasa menulis, catatan belanja di rumah bisa jadi tulisan”.
“Saya juga ingin terus belajar,” tambahnya.
Selain itu, diingatkan juga, tidak ada orang menjadi penulis baik tanpa membaca yang baik. Sebab itu, setiap orang harus selalu membaca karya orang lain. Dengan membaca karya orang lain, seseorang bisa belajar untuk melihat kelebihan-kelebihan karya orang lain dan belajar dari sana.
“Kalau ndak, kita mati sebelum mati, hanya klaim saja kita bagus,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) STAIN Pontianak Yapandi Ramli memuji aktivitas menulis dan penerbitan di STAIN Pontianak.
Dia menyebutkan ada tiga buku yang telah ditulis secara kolektif berdasarkan pengumpulan data secara bersama.
Buku pertama adalah Dayak Islam. “Buku ini sangat membanggakan dan banyak dicari orang,” katanya.
Buku selanjutnya adalah catatan lapangan dari Parit Wak Gatak, dan berikutnya adalah Menunggu di Tanah Harapan.
„Usaha seperti itu harus tetap dilanjutkan karena menghidupkan budaya menulis dan meneliti,” katanya.
Direktur MC, Ibrahim, MA menceritakan tentang program MC yang sudah berjalan. Salah satu adalah dengan menerbitkan buku Menunggu di Tanah Harapan.
Dalam waktu dekat MC juga akan menerbitkan buku “Masyarakat Madura di Perantauan“. Buku ini merupakan versi lain data yang diperoleh ketika peserta pelatihan mengadakan kunjungan dalam kegiatan Riset Wisata beberapa waktu lalu. (Release MC)
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
